Blog

Jatuh di Atas Panggung, Begini Kondisi Shawn Mendes

[Bintang] Shawn Mendes

Penyanyi Shawn Mendes belakangan ini tertimpa insiden yang cukup mengejutkan. Ketika sedang tampil di Quebec, Kanada, ia melompat di atas bibir panggung. Namun, saking serius bernyanyi, mantan kekasih Hailey Baldwin itu malah salah mendarat di bawah panggung.

Meskipun pada akhirnya ia bisa berdiri dan bernyanyi lagi, tetap saja para penggemar mencemaskan kondisi Shawn Mendes. Di media sosial, banyak pertanyaan dari para penggemar yang menanyakan keadaan pelantun “Stitches” itu.

Seperti disampaikan Ace Showbiz, Selasa (10/7/2018), ternyata kondisi Shawn Mendes baik-baik saja. Hal itu diutarakannya saat membalas seorang warganet yang membuat akun fans di Twitter, mengunggah rekaman video Shawn jatuh.

Bersama videonya, pengguna akun fans Shawn Mendes tersebut menuliskan, “OH TIDAK @ShawnMendes LOL (laugh out loud/tertawa kencang)“.

Menanggapi dengan Tawa

Setelah akunnya disebut oleh para penggemar, sang penyanyi malah menanggapinya dengan tawa. Ia juga meyakinkan fans bahwa kondisinya baik-baik saja.

LOL ya. Aku baik-baik saja tapi juga itu masih terasa gila hahahahaha,” balas Shawn Mendes sambil mengunggah ulang video insiden tersebut.

Berterima Kasih

[Bintang] Shawn Mendes

Shawn Mendes juga berterima kasih kepada fans yang antusias di konser tersebut dengan menyampaikan, “Quebec malam ini benar-benar gila, terima kasih sudah mau bernyanyi denganku!” katanya.

Tak Kehilangan Ritme

[Bintang] Shawn Mendes

Diketahui, Shawn Mendes terjatuh saat ia menyanyikan lagu “Mercy” di Quebec City Summer Festival pada Minggu (8/7/2018) lalu.

Ia melompat di bibir panggung yang tak terlalu tinggi, namun malah terjatuh dengan bokong mendarat terlebih dahulu. Masih bisa berdiri, Shawn pun melanjutkan penampilannya tanpa kehilangan ritme

Anime ‘Black Clover’ Umumkan Seiyuu untuk Karakter Baru

Hal ini terungkap setelah diumumkan pada edisi ke-32 majalah Weekly Shounen Jump bahwa Megumi Han yang pernah berperan sebagai Gon (Hunter X Hunter) dan Miki Makimura (DEVILMAN crybaby) menyumbangkan kemampuannya dalam anime Black Clover sebagai Kahono yang diadaptasi dari mangaberjudul sama karangan Yuuki Tabata dimana dalam waktu dekat anime akan memasuki arc Seabed Temple Arc.

Kumi Koda akan menyanyikan lagu opening baru yang berjudul Guess Who Is Back sementara untuk lagu ending berjudul four dinyanyikan oleh FAKY. Kedua lagu tersebut akan debut di episode ke-40 yang telah tayang kemarin.

Kumi Koda akan menyanyikan lagu opening baru yang berjudul Guess Who Is Back sementara untuk lagu ending berjudul four dinyanyikan oleh FAKY. Kedua lagu tersebut akan debut di episode ke-40 yang telah tayang kemarin.

Black Clover sendiri tayang perdana pada bulan Oktober tahun lalu dengan jumlah episode sebanyak 51 episode dimana melibatkan banyak seiyuu dan nama-nama berikut ini sebagai staf yang terlibat:

    • Sutradara: Tatsuya Yoshihara
    • Studio Animasi: Studio Pierrot
    • Komposisi Seri: Kazuyuki Fudeyasu
    • Karakter Desain: Itsuko Takeda
    • Sub-karakter Desain: Kumiko Tokunaga
    • Desain Properti: Kosei Takahashi
    • Desain Pewarnaan: Aiko Shinohara
    • Komposer Musik: Minako Seki

Selain diadaptasi menjadi serial anime, Black Clover juga diadaptasi menjadi game.

 

Evolusi Taktik Deschamps Selama Piala Dunia 2018

Pelatih timnas Prancis Didier Deschamps. AP Foto / Laurent Cipriani

Orang-orang Perancis menggilai anggur. Berkat Didier Deschamps, setidaknya di Piala Dunia 2018, mereka juga menggilai sepakbola seperti menggilai anggur.

Saat tandukan Samuel Umtiti berhasil membobol gawang Thibaut Courtois pada menit ke-51, teriakkan “buuut!” [gol] tidak hanya menggema di Stadion St Petersburg, tempat dilangsungkannya pertandingan semifinal Piala Dunia 2018. Di Bordeaux, Marseille, Paris, hingga sudut-sudut terpencil Perancis, teriakan itu tak kalah membikin gaduh.

Menjelang laga semifinal bubar, sementara para penggemar Perancis di atas tribun stadion mulai melompat-lompat sambil menyanyikan “Qui ne saute pas n’est pas francais” [kurang lebih berarti “siapa yang tidak melompat bukan orang Perancis”], penggemar di rumah sudah bersiap memadati jalanan di kota-kota Perancis untuk merayakan kemenangan.

Perancis akhirnya menang 1-0. “Allez les blues!” [go the blues] kemudian diteriakkan orang-orang Perancis secara kompak, baik yang berada di stadion maupun yang sudah berjalan untuk memadati Champs Elysees, Paris.

“Malam ini kami sangat bangga menjadi orang Perancis!,” teriak Alia dan Sacha, dua anak sekolah asal Paris yang ikut turun ke jalanan hari itu, dilansir dari The Local. Sementara Alia dan Sacha merasa bangga, Sebastien mulai bernostalgia dengan kesuksesan Perancis di Piala Dunia 1998: “Saya baru berusia 18 pada tahun 1998 lalu, itu adalah malam terbaik di sepanjang hidup saya. Kami akan mengulangnya pada hari Minggu nanti.”

Thierry Perier, yang saat itu merayakan pesta kemenangan Perancis atas Belgia bersama anaknya yang sedang berusia delapan tahun, tak mau kalah. Ia mengatakan, “Kami membutuhkan hal-hal seperti ini di Perancis, kami pantas mendapatkannya. Kami memiliki pemain-pemain terbaik dan untuk mengangkat moral orang-orang Perancis, memenangi Piala Dunia akan bisa menjadi hadiah yang tak tergantikan.”

Saat ini Perancis memang belum menjadi juara Piala Dunia 2018. Untuk meraihnya mereka masih harus melangkah satu kali lagi, yaitu bertanding melawan Kroasia atau Inggris di laga final. Kekalahan bisa membuat euforia tersebut seperti omong kosong, bahkan bisa juga berubah menjadi caci maki.

Namun Deschamps berjanji untuk tidak akan merusak kebahagian orang-orang Perancis itu. Setelah kemenangan atas Belgia, ia mengatakan, “Saya berada di sini [menjadi pelatih Perancis] untuk menulis lembaran baru di dalam sejarah.”

Taktik Deschamps Sempat Diragukan

Sebelum Piala Dunia 2018 dimulai, Patrick Urbini, penulis sepakbola Perancis, tidak yakin Perancis bisa berbuat banyak di Piala Dunia 2018. Menurutnya, di bawah asuhan Didier Deschamps, Perancis cenderung bermain bertahan, menekankan serangan balik, dan lebih mengandalkan kemampuan individu para pemainnya saat menyerang daripada bermain secara kolektif. Singkat kata, terutama dalam menyerang, Les Blues masih jauh dari kesan kohesif.

Saat menghadapi lawan-lawan yang lebih bagus secara kualitas, pendekatan Deschamps tersebut mungkin dapat bekerja, tetapi Perancis hanya bergabung bersama Australia, Peru, dan Denmark di putaran grup Piala Dunia 2018. Di atas kertas tim-tim tersebut kalah kualitas dari Perancis. Mereka kemungkinan akan bermain bertahan saat menghadapi Perancis. Itu artinya, jika tetap menekankan serangan balik, Perancis akan kesulitan saat menghadapi mereka.

Dengan pendekatan seperti itu, Perancis benar-benar kesulitan saat menghadapi Australia di pertandingan pertama. Bermain dengan formasi 4-3-3, menghadapi Australia yang bermain bertahan dengan formasi 4-4-1-1, Perancis tak berkembang.

Paul Pogba, N’golo Kante, dan Corentin Tolisso, bermain terlalu dekat dengan garis pertahanan Perancis. Akibatnya, trio penyerang Perancis, Kylian Mbappe, Antonie Griezmann, serta Ousname Dembele jarang mendapatkan suplai bola dari pemain-pemain tengah. Peran mereka di lini depan kemudian tidak efisien, mereka bahkan terskesan bermain sendiri-sendiri.

Pada babak kedua, terutama setelah Australia berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1, Deschamps melakukan perubahan. Olivier Giroud dan Nabil Fekir dimasukkan menggantikan Griezmann dan Dembele. Tujuannya, saat Perancis kesulitan mengirimkan umpan-umpan pendek ke lini depan, mereka bisa bermain secara direct.

Namun karena pendekatan tersebut tak kunjung membuahkan hasil, Deschamps sekali lagi melakukan perubahan: Matuidi dimasukkan untuk menggantikan Tolisso. Ia akan bermain sebagai gelandang sebelah kiri, sementara Pogba digeser di sebelah kanan, menggantikan posisi Tolisso.

Selain melakukan perubahan posisi, Deschamps juga menginstruksikan Pogba lebih sering maju ke depan. Hasilnya ternyata mujarab. Gol bunuh diri Aziz Behich, yang menjadi gol penentu kemenangan Perancis, berawal dari pergerakan Pogba. Sementara BBC memilih Pogba sebagai man of the match, Deschamps tak luput memuji penampilan gelandang Manchester United tersebut.

“Pogba tampil bagus hari ini,” ujar Deschamps, “Dia memiliki kebebasan dan juga berkontribusi saat bertahan. Dia mampu tampil lebih baik dengan tiga pemain tengah daripada dua pemain tengah, kita bisa melihat itu dan saya merasa dia sudah memainkan perannya dengan baik.”

Saat menghadapi Peru, berdasarkan penampilan Perancis di babak kedua saat menghadapi Australia, Deschamps kemudian melakukan perubahan taktik. Untuk mendukung Pogba, ia memainkan formasi 4-2-3-1 asimetris. Di flank sebelah kiri, daripada memainkan seorang pemain sayap, ia justru memainkan Matuidi. Saat menyerang maupun bertahan, daripada bermain melebar, Matuidi akan bermain merapat dengan Pogba dan Kante yang bermain sebagai double-pivot.

Dengan begitu, Pogba bisa maju ke depan dengan lebih leluasa, pada saat bersamaan Perancis juga tidak akan kehilangan keseimbangan. Terlebih, saat Perancis dalam transisi bertahan, Pogba juga mempunyai kelebihan dalam melakukan tekel di daerah lawan yang mampu menghambat transisi serangan lawan.

Sekali lagi, meski Perancis masih tampil jauh dari harapan, Pogba menjadi kunci kemenangan Perancis dalam laga tersebut. Gol Kylian Mbappe, satu-satunya gol yang terjadi dalam pertandingan tersebut, berawal dari tekel yang dilakukan Pogba di daerah pertahanan Peru.

Meski berhasil menjadi juara grup setelah menahan imbang Denmark 0-0 dengan sejumlah pemain cadangan, penampilan Perancis ternyata masih jauh dari kata memuaskan. Mereka dinilai terlalu bertahan dan kesulitan melakukan serangan saat menghadapi lawan yang bermain bertahan.

Dalam tulisannya di Financial Times, Simon Kuper secara blak-blakan mengatakan, “Semua pertandingan Perancis di [putaran grup] Piala Dunia 2018 berlangsung membosankan.” Menurutnya, Perancis mandul tidak dan bisa berkembang di dalam setiap pertandingan.

Sementara Stuart James, penulis Guardian yang menyaksikan pertandingan Perancis melawan Denmark, juga mengeluhkan hal yang tak jauh berbeda. Ia menulis, “Perancis hanyalah sekumpulan individu yang tak mampu tampil secara kohesif.”

Dua penulis sepakbola itu memang tak salah. Di putaran grup Perancis hanya mampu mencetak 3 gol dalam 3 pertandingan. Bahkan dua dari tiga gol tersebut “membutuhkan” bantuan VAR [Video Assistant Referee]. Menyoal permain Perancis yang kurang kohesif, itu dapat dinilai dari peran tunggal Pogba di dalam setiap penampilan Perancis: tiga gol yang dicetak Perancis tersebut terjadi berkat usaha Pogba, bukan karena permainan kolektif tim.

Adaptasi Taktik Deschamps

Menjelang babak 16 besar, Deschamps lalu menanggapi kritikan tersebut dengan santai, bahkan cenderung optimistis. “Kompetisi kedua [fase sistem gugur] dimulai sekarang,” ujarnya. “Kekuatan Perancis akan muncul dengan sendirinya.”

Menghadapi Argentina di babak 16 besar, kembali bermain dengan formasi 4-2-3-1 asimetris, penampilan Perancis benar-benar jauh berbeda dengan penampilan mereka di putaran grup: Perancis mampu tampil menarik. Saat itu cara bermain Argentina yang menekankan penguasaan bola memang menguntungkan pendekatan Deschamps. Namun dalam melancarkan serangan balik, Perancis tidak hanya mengandalkan Pogba tapi juga mampu bermain sebagai tim.

Duet full-back Perancis, yang sebelumnya tak banyak berkontribusi saat Perancis menyerang, menjadi senjata Perancis saat anak asuh Didier Deschamps tersebut bermain melebar. Dengan begitu, saat Pogba kesulitan untuk mengirimkan umpan ke arah Mbappe, Pavard bisa membantunya. Sementara Hernandez bisa tetap membuat Perancis berbahaya dari sisi kiri meski Matuidi berperan sebagai defensive winger.

Dalam pertandingan tersebut, Lucas Hernadez dan Benjamin Pavard kemudian terlibat dalam proses tiga gol dari empat gol yang dicetak oleh timnya. Sementara Pavard mencetak satu gol, Hernandez mengirimkan dua umpan silang yang berhasil dikonversi menjadi gol.

Selain itu, gol keempat Perancis dapat menunjukkan bahwa mereka mampu menyerang secara kohesif. Melibatkan Kante, Matuidi, Griezmann, Giroud, dan Mbappe, gol itu dibangun dari lini belakang dan hanya membutuhkan tujuh kali sentuhan.

Menyoal peran Matuidi sebagai defensive winger yang sebelumnya dinilai kurang efektif, terbatasnya pergerakan Messi dalam pertandingan tersebut bisa menjawab kritik yang diarahkan kepada Deschamps. Menurut Michael Cox, dalam analisisnya di Independent, Matuidi merupakan pemain kunci dalam kemenangan Perancis tersebut.

Infografik Didier Deschamps

“Ia mampu meminimalisir ruang Linoel Messi,” tulis Cox. “Di sisi kanan lini serang Argentina, Matuidi mampu melakukan postioning dengan baik, dan melakukan beberapa kali intersep penting.”

Setelah kembali tampil meyakinkan dengan cara yang sama saat menghadapi Uruguay di babak perempat-final, saat menghadapi Belgia di babak semifinal Deschamps sekali lagi menunjukkan bahwa ia adalah seorang pelatih yang adaptatif.

Dalam pertandingan tersebut, Marouane Fellaini diberi tugas oleh Roberto Martinez untuk melakukan man-to-man marking terhadap Pogba. Selain itu, mantan pelatih Everton itu juga menginstruksikan Eden Hazard untuk bermain lebih melebar di sisi kiri, memaksa Benjamin Pavard sibuk dalam bertahan. Dengan begitu, Mbappe tidak akan mendapatkan dukungan dari kedua pemain itu.

Pada awal laga, pendekatan itu memang menyulitkan Perancis untuk membangun serangan. Namun, Deschamps kemudian melakukan perubahan menarik: Pogba diberi tugas untuk lebih bertahan, membantu Pavard untuk mengatasi Hazard. Dengan begitu, karena Kevin De Bruyne kesulitan untuk menghadapi Kante dan Matuidi, Belgia dipaksa mengandalkan Nacer Chadli, yang bermain sebagai full-backkanan, untuk melakukan serangan.

Saat Chadli sering maju ke depan, Griezmann dan Giroud sering bermain berdekatan di sisi kanan pertahanan Belgia. Perancis ingin mengandalkan serangan dari kedua pemain tersebut: Griezmann dijadikan sebagai pusat transisi serangan dan Giroud sebagai penghubung. Mereka berdua kemudian berhasil mengacaukan keseimbangan permainan Belgia.

Dengan pendekatan seperti itu, meski terus ditekan, Perancis justru tampak lebih berbahaya di sepanjang babak pertama. Sementara Belgia hanya mampu melakukan 3 kali percobaan tembakan ke arah gawang, Perancis berhasil melakukannya 11 kali. Dari 11 percobaan tembakan pemain-pemain Perancis tersebut, 8 di antaranya dilakukan oleh Giroud [3] dan Griezmann [5].

Setelah Perancis unggul di babak kedua, Belgia memang beberapa kali melakukan perubahan. Namun, perubahan taktik tersebut tidak memberikan dampak yang cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dari keputusan Deschamps untuk memasukkan N’Zonzi, menggantikan Giroud, pada menit ke-85. Saat itu, tahu bahwa Belgia sudah tidak mempunyai jalan, ia memilih untuk membunuh pertandingan sebelum laga benar-benar bubar. Berkat taktik Deschamps, Perancis pun melaju ke babak final.

Menurut Jonathan Wilson, dalam bukunya Inverting The Pyramid, taktik adalah seni dalam memanipulasi ruang. Maka, saat Deschamps kembali menerapkan formasi 4-2-3-1 asimetris di pertandingan final Piala Dunia 2018 nanti, formasi itu tidak akan berhenti pada empat bek sejajar, dua double pivot, tiga gelandang serang, dan satu penyerang tengah. Selama ada ruang yang dapat dimanipulasi, dengan mengubah peran para pemainnya, Deschamps akan selalu beradaptasi.

Kratingdaeng Hadirkan Kompetisi eSports Bergengsi

Kratingdaeng Hadirkan Kompetisi eSports Bergengsi

Industri eSports tanah air terus mengalami perkembangan pesat dan menjadi sorotan akhir-akhir ini. Yang terbaru, eSports semakin mendapatkan pengakuan setelah resmi menjadi salah satu cabang olahraga ekshibisi di Asian Games 2018. Hal inilah yang membuat brand-brand ternama terus melirik eSports sebagai sebuah fenomena baru, seperti Kratingdaeng yang rencananya akan menggelar ajang Indonesia eSport Championship (IEC) 2018.

Mematok target 20.000 orang peserta di seluruh Indonesia, Kratingdaeng IEC 2018 digadang bakal menjadi kompetisi terbesar di Indonesia. Ajang berhadiah total 1.000.000.000 (1 Milyar) rupiah ini akan dibagi menjadi dua babak, yaitu qualifier (online dan offline) khusus untuk permainan Mobile Legends dan PUBG, sedangkan grand final akan diadakan pada tanggal 8 – 9 September 2018 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD.

PUBG akan memulai kualifikasinya minggu ketiga bulan Juli, dimana diperkirakan akan mencapai 3.000 orang peserta. Sedangkan kualifikasi Mobile Legends digelar bulan Agustus dengan target 1.200 tim dari empat region seluruh Indonesia (Sumatera, Jawa Nusabali, Sulawesi-Papua dan Kalimantan). Untuk grand final yang bertanding di ICE BSD, akan terdiri dari 128 tim Mobile Legends dan 20 tim PUBG.

Kratingdaeng IEC 2018 akan mempertandingkan beberapa games yang dibedakan berdasarkan platform, yakni konsol, PC dan mobile game. Tim terbaik Indonesia berkesempatan untuk menjajal kemampuannya menghadapi tim dari luar negeri. Pertandingan ini juga sekaligus menjadi partai puncak yang tentunya ditunggu oleh pemain maupun penonton Kratingdaeng IEC 2018.

Kratingdaeng IEC 2018 akan dimeriahkan beberapa artis ternama seperti Weird Jenius dan JKT 48. Pengunjung akan dimanja dengan booth exhibition, food truck dan berbagai acara menarik. Sebagai catatan harga tiket Kratingdaeng IEC 2018 akan dijual dalam 2 tahap, pre-sale dan harga normal. Pre-sale yang akan dibuka H-2 bulan, dengan harga Rp. 125.000 (regular) dan Rp. 175.000 (VIP), sedangkan harga normal Rp. 200.000 (regular) dan Rp. 250.000 (VIP).

MyRepublic Memperlihatkan Prototipe Kartu SIM

myrepublic-mobile-sim-cardmyrepublic-mobile-sim-cardmyrepublic-mobile-sim-card

MyRepublic baru saja merilis beberapa foto dari apa yang tampaknya menjadi Kartu SIM seluler pertama mereka. Perusahaan ini adalah salah satu dari beberapa organisasi yang akan mengajukan penawaran untuk spektrum telekomunikasi baru yang dirilis oleh IDA yang dijadwalkan akan dimulai awal tahun depan dan diharapkan dapat meluncurkan layanan secara nasional pada akhir September 2018.

MyRepublic sebelumnya berjanji untuk menawarkan data seluler tanpa batas jika mereka berhasil. Sebagai tambahan untuk merilis foto prototipe kartu SIM, mereka juga menyatakan mereka akan mengungkapkan ‘sesuatu yang lebih konkret’ dalam minggu mendatang.

Sword Art Online Season 3 Sepenuhnya Bahas Arc Alicization

Sword Art Online Season 3 sebelumnya telah dikabarkan akan mengadaptasi arc terbesar SAO yaitu Alicization, dimana Kirito harus masuk ke dalam Project Alicization. Dengan light novelnya sendiri yang memiliki lima seri novel, arc tersebut sangat panjang jika dibandingkan dengan arc Sword Art Online atau Gun Gale Online sekalipun

Dengan pengumuman tersebut, para fans sangat khawatir jika arc terbesar ini akan dipangkas habis sama seperti arc SAO yang dibahas dalam 12 episode dan dilanjutkan dengan Alfheim Online dan arc GGO yang dilanjutkan dengan Mother’s Rosario. Namun, Kazuma Miki selaku editor dari anime Sword Art Online telah mengonfirmasi bahwa season ketiga akan sepenuhnya membahas Alicization.

Namun, detail penayangan musim terbaru ini belum dikabarkan jumlah episode dan kapan akan tayang. Yang pasti, Yoshitsugu Matsuoka akan kembali mengisi suara Kirito, Haruka Tomatsu akan kembali sebagai Asuna. Sedangkan dua karakter baru dalam arc Alicization yaitu Alice akan diperankan oleh Ai Kayano dan Eugeo akan diperankan oleh Nobunaga Shimazaki.

Deretan Motor Kurang Laku Sepanjang Juni 2018

https: img-o.okeinfo.net content 2018 07 11 15 1920745 deretan-motor-kurang-laku-sepanjang-juni-2018-Kp9TD1PpM7.jpg

JAKARTA – Pasar sepeda motor nasional dalam enam bulan angka penjualan roda dua di tanah air mencapai 3.268.415. Dibanding bulan sebelumnya angka penjualan di Juni turun 414,252 unit dibanding Mei yang mencapai 641,625.

Yang cukup menarik, selama bulan juni ada beberapa model sepeda motor yang angka penjualannya kurang moncer. Dan kebanyakan model tersebut merupakan motor bebek non matik, motor sport 150 naked.

Mengacu pada data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) terdapat satu model motor yang tak laku sama sekali di bulan Juni, yakni Byson FI. Selama enam bulan sepanjang 2018, Yamaha Byson hanya menyumbangkan angka penjualan sebanyak 54 unit, dan hanya di bulan Mei meraih angka terbesar yakni 45 unit.

Mengacu pada data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) terdapat satu model motor yang tak laku sama sekali di bulan Juni, yakni Byson FI. Selama enam bulan sepanjang 2018, Yamaha Byson hanya menyumbangkan angka penjualan sebanyak 54 unit, dan hanya di bulan Mei meraih angka terbesar yakni 45 unit.

Ada pula Yamaha Xabre yang sejak peluncurannya kurang bertaji. Sepanjang enam bulan ini, Xabre bernasib lebih baik dibanding Byson FI dengan angka penjualan 446 unit di bulan Juni. Total penjualan selama enam bulan mencapai 2.471 unit, dan Mei menjadi penjualan terbaiknya sebanyak 560 unit.

Ada pula Yamaha Xabre yang sejak peluncurannya kurang bertaji. Sepanjang enam bulan ini, Xabre bernasib lebih baik dibanding Byson FI dengan angka penjualan 446 unit di bulan Juni. Total penjualan selama enam bulan mencapai 2.471 unit, dan Mei menjadi penjualan terbaiknya sebanyak 560 unit.

Selain Yamaha, dua model Honda juga bernasib sama seperti Honda Supra X 125 Helm In FI dengan angka penjualan bulan terakhir mencapai 194 dimana penjualan terbesarnya diraih pada Maret 2018 dengan angka 209 unit. Selama enam bulan model ini membukukan angka penjualan total 1.199 unit.

Selain Yamaha, dua model Honda juga bernasib sama seperti Honda Supra X 125 Helm In FI dengan angka penjualan bulan terakhir mencapai 194 dimana penjualan terbesarnya diraih pada Maret 2018 dengan angka 209 unit. Selama enam bulan model ini membukukan angka penjualan total 1.199 unit.

Model terakhir ada Honda Mega Pro FI yang angka penjualannya sepanjang Juni sebanyak 201 unit dengan angka penjualan terbanyak di Maret 221 unit. Sepanjang enam bulan 2018, model ini terjual 1.225 unit.

Toro Rosso selidiki penyebab hancurnya suspensi Hartley

Toro Rosso selidiki penyebab hancurnya suspensi Hartley

Tim Formula 1 Toro Rosso masih menyelidiki penyebab hancurnya suspensi depan pada mobil Brendon Hartley yang memicu terjadi kecelakaan besar di GP Inggris.

Toro Rosso memang memakai suspensi dengan spesifikasi terbaru di Silverstone. Tapi komponen yang hancur berasal dari spesifikasi lama.

Kendati demikian, sebagai langkah pencegahan, rekan setim Hartley, Pierre Gasly, kembali memakai versi lama untuk kualifikasi dan balapan. Pembalap Perancis itu bisa melewatinya tanpa masalah.

Mobil Hartley harus dirakit ulang dengan sasis cadangan. Tapi karena masih ada masalah pada sistem, ia hanya bisa melakukan satu lap sebelum kembali ke pit dan mengakhiri balapannya.

“Komponen yang bermasalah bukan berasal dari spesifikasi terbaru,” ungkap direktur teknis Toro Rosso, James Key, kepada Motorsport.com.

“Satu-satunya alasan kami kembali ke versi lama adalah untuk pencegahan.

“Ini masih diselidiki. Kami belum pernah mengalami masalah ini sebelumnya. Sembilan balapan kami lewati tanpa ada masalah.

“Belum pernah kami melihat ini sebelumnya. Jumlah beban yang diterima suspensi bagian kiri-depan sebenarnya masih sesuai dengan jumlah beban yang kami perkirakan. Komponen itu sudah digunakan pada satu hari sebelumnya, lalu di Kanada – yang memiliki titik pengereman besar, dan juga di Bahrain.

“Komponen itu sudah melewati tahap pengendalian mutu, teruji, dan seharusnya baik-baik saja. Jadi ini sedikit aneh ketika kami tiba-tiba mengalami masalah dari komponen yang sepengetahuan kami masih dalam kondisi sempurna.

“Yang harus kami cari tahu adalah apakah ada kerusakan sebelumnya.”.

James Key, Direktur Teknis Scuderia Toro Rosso

James Key, Direktur Teknis Scuderia Toro Rosso

Mobil Brendon Hartley, Scuderia Toro Rosso STR13 setelah kecelakaan

Mobil Brendon Hartley, Scuderia Toro Rosso STR13 setelah kecelakaan

Mobil Brendon Hartley, Scuderia Toro Rosso STR13 setelah kecelakaan

Mobil Brendon Hartley, Scuderia Toro Rosso STR13 setelah kecelakaan

Brendon Hartley, Toro Rosso

Brendon Hartley, Toro Rosso

Serpihan dari kecelakaan Hartley kemudian dibawa kembali ke markas Toro Rosso untuk diperiksa.

“Serpihan-serpihan itu telah dibawa kembali ke markas dan dikarantina. Kemudian akan dilakukan pemeriksaan forensik jadi kami bisa menemukan petunjuk dari apa yang sebenarnya terjadi.”

Key mengapresiasi kerja keras para mekanik Toro Rosso yang harus merakit ulang mobil Hartley meski pada akhirnya hanya bertahan selama satu lap balapan.

“Para mekanik telah melakukan pekerjaan yang fantastis. Mereka harus merakit semuanya dari awal, jadi bisa dibilang mereka membangun mobil utuh semalaman.

“Tapi ada masalah lain yang muncul dari perakitan itu, dan baru diketahui saat mobil sedang melakukan lap pemanasan di trek.

“Akibatnya itu membuat kami tertunda untuk keluar dari pit. Kami akhirnya bisa turun ke trek, tertinggal setengah lap, tapi masalah itu belum hilang.”

20+ Quotes Hero Mobile Legends yang Cocok Dipakai Untuk Update Status Biar Keliatan Keren

20+ Quotes Hero Mobile Legends yang Cocok Dipakai Untuk Update Status Biar Keliatan Keren

Di dalam game Mobile Legends ada hal unik yang dinamakan sebagai Voice Hero. Atau bisa kita artikan sebagai kata-kata yang diucapkan oleh seorang hero pada saat mereka berada di dalam game.

Ada beberapa macam kata yang diucapkan oleh para hero yang ada di game Mobile Legends tersebut. Ada yang mengekspresikan kemarahan dan ada juga beberapa hero mengucapkan kata-kata yang bijak.

Nah kamu ingin tau kan kata-kata bijak tersebut yang sekaligus bisa kamu pakai sebagai status untuk di medsos? Berikut ini adalah 20+ Quotes Hero Mobile Legends yang Cocok Dipakai Untuk Update Status Biar Keliatan Keren. Disimak ya!

20+ Quotes Hero Mobile Legends yang Cocok Dipakai Untuk Update Status Biar Keliatan Keren

1. Alice – The darkness can also be friend. (Kegelapan juga dapat menjadi teman)

2. Alucard – Everything will come to an end. (Segalanya akan berakhir)

3. Estes – Love others as love yourself. (Cintai orang lain seperti mencintai diri sendiri)

4. Layla – We can do it. (Kita dapat melakukannya)

5. Miya – It’s better to die with honor than live in shame. (Lebih baik mati dengan hormat daripada hidup dalam rasa malu)

6. Fanny – War is not a game. (Perang bukanlah permainan)

7. Rafaela – Knowledge and faith are always my companions. (Pengetahuan dan takdir selalu menjadi temanku)

8. Natalia – Truly wise man will not tell you the truth. (Orang bijak sejati tidak akan mengatakan padamu kebenarannya)

9. Hayabusa – I will not escape, that’s the way of the ninja! (Aku tidak akan kabur, itulah jalan ninja)

10. Moskov – Everyone changes, so do I. (Semua orang berubah, begitu juga aku)

11. Akai – You just need to believe. You have to believe it. (Engkau hanya perlu percaya, Engkau harus mempercayainya)

12.Saber – Move like the wind, be steady like a rock. (Bergerak seperti angin, tegap seperti batu.)

13. Alpha – Why must people, Hurt each other? (Kenapa manusia harus saling menyakiti ?)

14. Chou – Not knowing oneself, that’s the worst. (Tidak paham dengan dirinya sendiri, itu yang terburuk.)

15. Lolita – A painless lesson is also meaningless. (Pelajaran yang tidak sakit adalah yang tidak memiliki makna)

16. Cyclops – Where there’s life, there’s movement! (Dimana ada kehidupan, disitu ada pergerakan)

17. Karina – There are wonderful things in this world, worthy of our protection. (Banyak hal menakjubkan di dunia ini, yang pantas mendapat perlindungan dari kita)

18. Tigreal – A warrior’s duty, is to bring victory. (Kewajiban seorang petarung, adalah membawa kemenangan)

19. Lapu-lapu – March forward and fear nothing! (Majulah kedepan dan jangan takut pada apapun!)

20. Gatot Kaca – We are unity in diversity. (Bhinneka tunggal ika)

21. Argus – Power is eternity. (Kekuatan adalah keabadian)

22. Diggie – Running late? Just slow down the time. (Sedang terlambat? Lambatkan saja waktunya)

23. Hylos – Charge forward and fear nothing. (“Majulah kedepan dan jangan takut dengan apapun”)

Akhir Kata

Itu 20+ Quotes Hero Mobile Legends yang Cocok Dipakai Untuk Update Status Biar Keliatan Keren. Dari seluruh quotes hero di atas, menurut kamu siapakah hero yang mempunyai quotes terbaik? Kalau ada share ya di kolom komentar!

Bagaimana Orang-Orang Asing Mengubah Taktik Timnas Inggris

Ada anekdot kasar tentang Inggris dan sepakbola. Hanya dua kontribusi Inggris terhadap sepakbola, kata anekdot itu, yaitu rules of the games dan rules of the money.

Inggris memang tanah air bola. Di sanalah aturan permainan yang paling mendasar dari permainan ini dirumuskan dan dibakukan. Industri sepakbola modern juga patut berterimakasih kepada Inggris yang, pada 1992, berhasil membuktikan bahwa kompetisi sepakbola bisa menjadi tambang laba yang luar biasa. Inggris yang mengajarkan dunia perkara peraturan bermain serta pengaturan modal dan laba.

Namun dalam soal pengembangan taktik sepakbola, Inggris selalu tertinggal ketimbang negara lain. Hulu dari semua ini adalah kepongahan yang menjadi karakter bangsa Inggris sendiri. Dan sifat ini terjadi sejak awal abad 19.

Sebagai negara imperial yang kekuasaannya membentang ke seluruh penjuru dunia, bahkan disebut sebagai negarayang tidak mengenal matahari tenggelam, Inggris bukan hanya menjadi penemu sepakbola modern tapi kekuatan dunia yang sebenarnya.

Aparat kolonial Inggris inilah, entah itu serdadu atau pegawai sipil, juga para pedagang, buruh dan pelaut Inggris di seluruh dunia, yang menyebarkan sepakbola. Merekalah yang bertanggungjawab atas meluasnya sepakbola hingga hari ini. Sastrawan Argentina, Jore Luis Borges, sampai berujar: “Sepakbola, sebagaimana kriket dan golf, ialah dosa bangsa Inggris yang sukar dimaafkan.”

Memasuki abad 20, saat tata dunia sudah mulai berubah, dan Inggris sebenarnya tidak lagi menjadi pemain tunggal dalam konstelasi global, sepakbola semakin berkembang, termasuk dalam pengorganisasian. Kebutuhkan untuk membangun asosiasi yang mengatur pertandingan sepakbola antar negara semakin terasa mendesak.

Pada awalnya Inggris diharapkan memimpin asosiasi itu, namun munculah Perancis lewat Julies Rimet yang menggagas FIFA pada Mei 1904 di Paris. Inggris enggan bergabung, terutama karena merasa sebagai supoerior dan merasa tak perlu ikut-ikutan. Apalagi rivalitas antara Inggris-Perancis membuat Inggris makin malas bergabung dengan FIFA, dan baru bergabung pada 1906.

Namun tak lama kemudian, Inggris menekan FIFA agar menyingkirkan anggota FIFA yang bergabung dengan Central Powers (dengan poros utama: Jerman dan Austria-Hungaria), musuh Inggris (yang bergabung dengan Allied Powers) dalam Perang Dunia I. FIFA menolak, Inggris (bersama Wales, Irlandia dan Skotlandia) keluar dari FIFA. Mereka bergabung lagi dengan FIFA pada 1924.

Itu pun tak lama. Negara-negara Inggris Raya kembali bersitegang dengan FIFA dalam isu pembayaran untuk para pemain amatir dan kembali mereka meninggalkan FIFA pada 1928 dengan alasan resmi: “Kami harus dibebaskan melakukan urusan (apa pun) berdasarkan pengalaman panjang kami”.

Saat Piala Dunia pertama kali digelar pada 1930 di Uruguay, Inggris diundang untuk berpartisipasi walau bukan anggota FIFA, namun mereka tak pernah menjawab undangan itu. Dua insiden itu mencerminkan, dalam istilahnya Scott Muray (editor olahraga The Guardian dan penulis buku The Panthom of the Open), “keangkuhan berskala besar”.

Saat orang Perancis yang lain, Henry Delauney, menginisiasi kelahiran UEFA, lagi-lagi Inggris menolak bergabung. Inggris juga menolak ikut Piala Eropa pertama pada 1960, dan Chelsea yang saat itu menjadi juara liga juga didesak tidak ikut Piala Champions pertama pada 1955/1956.

Untuk perasaan superior itu, FIFA dan UEFA lahir tanpa keterlibatan Inggris. Tak perlu heran jika kepanjangan resmi FIFA dan UEFA sebenarnya dalam bahasa Perancis, bukan Inggris.

Superioritas yang Memicu Ketertinggalan

Sejarawan Peter Beck dalam bukunya berjudul Scoring for Britain menyebut kondisi itu disebabkan Inggris sendiri yang terlalu yakin pada keunggulan mendasar sepakbola dan kompetisi liga domestik.

Argumen ini bisa dilacak dari sikap Inggris yang menganggap pertandingan internasional bukan sesuatu hal penting.  Pernyataan dari ketua FA, Charles Sutcliffe saat menarik Inggris dari FIFA pada 1928 mungkin bisa jadi gambaran argumen itu.

“Saya tidak peduli dengan peningkatan permainan di Prancis, Belgia, Austria atau Jerman. FIFA tidak menarik bagi saya. Sebuah organisasi di mana asosiasi sepak bola seperti Uruguay, Paraguay, Brasil, Mesir dan pan Rusia disetarakan dengan Inggris, Skotlandia, Wales dan Irlandia adalah kasus membandingkan orang cebol dengan orang normal,” katanya, dikutip dari buku Sport: Almost Everything You Ever Wanted to Know.

“Jika Eropa Tengah atau wilayah lain ingin mengatur sepakbola, biarkan mereka membatasi kekuasaan dan otoritas mereka untuk diri mereka sendiri dan kita bisa mengurus urusan kita sendiri,” tuturnya lagi. Itulah mengapa Inggris menolak ikut bertanding pada Piala Dunia 1930, 1934 dan 1938.

Sikap Inggris  mulai luluh usai Perang Dunia II. Mereka mulai berfikir banyak manfaat yang bisa didapat dari integrasi, alih-alih menyendiri dan terisolasi dari tren dunia. Tokoh utama pendekatan ini adalah sekretaris FA, Stanley Rous. Kelak pada 1961 ia akan menjadi Presiden FIFA. Rous melihat sepakbola sebagai cara mempertahankan pengaruh Inggris dalam tatanan global dalam ketidakpastian pasca perang. Ia mengajak Inggris bergabung kembali dengan FIFA pada 1946.

Perlahan tapi pasti ia sukses membawa kembali bekas pelatih timnas Swedia, George Raynor, pulang ke Inggris sebagai direktur teknik. Raynor adalah pelatih jenius secara taktik. Ia mampu memberi medali emas Olimpiade 1948 kepada Swedia.

Sayangnya, Raynor tak dihargai di kampungnya sendiri. Ia pun kembali pulang ke Swedia dan sukses mengantarkan negara itu ke Final Piala Dunia 1958. Perlakuan pongah dari Inggris membuat Raynor lebih senang disebut sebagai orang Swedia ketimbang Inggris. Hal ini ia ungkap dalam buku berjudul A Prophet Without Honour.

Inggris kali pertama muncul pada Piala Dunia 1950. Mereka tampil baik di laga pertama mengalahkan Chili 2-0, namun kemudian kalah dalam dua pertandingan berikutnya, salah satunya 1-0 melawan tim AS yang hampir seluruhnya terdiri dari pemain amatir. Sayangnya kegagalan ini ditanggapi biasa saja oleh publik Inggris. Turnamen ini juga tidak memikat publik Inggris, seperti yang ditulis oleh sejarawan Matthew Taylor:

“Media menunjukkan sedikit minat dalam turnamen: Tidak ada komentar radio BBC atau siaran televisi dan beberapa surat kabar, seperti Times, bahkan tidak mengirim koresponden.”

Kurangnya antusiasme ini menunjukkan perhatian publik Inggris pada Piala Dunia sangatlah kecil. Kepongahan di tingkat federasi ternyata juga menjalar ke publik Inggris yang ikut-ikutan menilai pertandingan internasional sebagai hal remeh. Dan itu menghukum Inggris.

Saat negara-negara lain sudah memodifikasi pengembangan WM mulai dari sistem MM Gustav Sebez di Hungaria, Verrou ala pelatih Swiss Karl Rappan atau slingerback ala Richard Kohn, Inggris masih patuh pada pakem Albert Chapman yang populer pada 1930-an.

Mata publik Inggris baru terbelalak ketika cahaya Mighty Magyar menerangi Wembley pada 25 November 1953. Saat itu secara mengejutkan Inggris digebuk 3-6 oleh timnas Hungaria di depan pendukung mereka sendiri.

“Tentu saja orang mengira kami akan menang tetapi kami mendapat pelajaran yang tepat hari itu,” kata Jackie Sewell dikutip dari BBC. “Saya tidak berpikir kami seburuk itu tetapi mereka luar biasa, mudah tim terbaik yang pernah saya lihat bermain sepakbola. Gerakan mereka luar biasa. Mereka dengan mudah melewati kita. Mereka memainkan segitiga-segitiga kecil, yang seperti Anda lihat pada sepakbola modern sekarang”

Saat berjumpa dengan Inggris, pelatih Gustav Sebes memperkenalkan formasi 4-2-4 pengembangan dari WM yang dipakai Inggris. Hungaria tidak memakai 4 bek sejajar, formasi mereka masih seperti WM dengan tiga bek, namun ada satu gelandang yang diposisikan di depan bek tengah jadi menyerupai seperti ada 4 bek. Sedangkan Inggris masih memakai WM yang menaruh lima pemain di depan yang bergerak statis sesuai nomor punggung.

Inggris tampil seperti orang-orang gunung yang tak pernah melihat sepakbola. Mereka bisa dibilang sangat katrok karena kebingungan: “Kok bisa ada pemain nomor 10 turun ke bawah? Kok bisa di belakang ada sampai 4 pemain?” Dan lain-lain, dan sebagainya.

Sir Stanley Matthews yang hebat, dalam otobiografi yang diterbitkan pada tahun 2000, mengakui bahwa Inggris saat itu ketinggalan zaman. Ia menambahkan: “Hungaria menggabungkan dua gaya: gara intersep dan direct ala sepakbola Inggris dengan bola-bola pendek yang jadi ciri khas Amerika Selatan. Itu adalah kombinasi imajinatif dari kontrol bola yang menuntut, kecepatan gerakan dan visi esoterik yang dirajut bersama untuk merumuskan gaya sepakbola yang inovatif seperti itu produktif. Jauh sebelum peluit akhir, kemuliaan masa lalu sepakbola kita telah berakhir.”

Enam bulan kemudian, orang-orang Hungaria ini kembali mendidik lelaki Inggris dengan menghancurkan mereka 7-1 di Budapest. Usai insiden ini, pada Piala Dunia 1954, Inggris lebih merasa inferior. Mereka memang sukses melenggang ke perempatfinal sebelum akhirnya digentikan Uruguay 4-2.

Untuk kali pertama media Inggris mengakui diri mereka memang terlalu pongah, seperti tertuang dalam artikel dirilis The Guardian sehari setelah kekalahan ini.

“Faktanya bahwa orang Uruguay secara teknis adalah pemain yang jauh lebih baik. Kontras antara kedua tim tidak hanya terletak pada keterampilan individu tetapi dalam kerja tim. Ketika serangan Inggris mencapai zona bahaya biasanya ada tujuh atau lebih pemain Uruguay menghentikan mereka,” tulis Guardian. Laporan Guardian menjelaskan: Uruguay kala itu baru saja mengajarkan Inggris cara bermain zonal.

Dampak dari kekalahan atas Hungaria dan Uruguay terasa begitu luas. Inggris pelan-pelan mulai belajar apa yang terjadi di dunia sepakbola. Formasi WM yang sudah sangat usang mulai ditinggalkan. Pengunaan formasi 4-2-4, yang kemudian menjadi 4-4-2, semakin luas. Dan domino perubahan itu merembet hingga kemenangan Inggris pada Piala Dunia 1966. Dari 1953 saat dipermak Hungaria, mereka baru menemukan manfaatnya pada 1966, hampir 13 tahun kemudian.

Taktik Hungaria menekankan serangan dari tengah menginspirasi Alf Ramsey yang pada waktu itu bermain sebagai bek kanan, menihilkan posisi pemain gelandang sayap di timnas Inggris pada Piala Dunia 1966.

Tim asuhan Ramsey kala itu dijuluki sebagai ‘Wingless Wonders’, formasi Inggris kala itu lebih mirip seperti 4-4-2 diamond, dengan Bobby Charlton didorong lebih tinggi ketimbang Alan Ball dan Martin Peters.

Alf Ramsey pun memadukan kombinasi taktik Swedia dan Brazil. Tak seperti Brazil yang memasang deep-lying playmaker pada posisi gelandang bertahan, Ramsey lebih condong memakai Nobby Styles berkarakter anchor-man yang mau bertarung dan fokus untuk bertahan. Pakem ini mirip seperti diterapkan Swedia yang dikenal solid dalam bertahan.

Saat juara 1966, dengan skema ini Inggris sebenarnya dikritik memainkan sepakbola yang membosankan. Permainan lebih menitikberatkan pada adu fisik, direct langsung ke tengah.

“Sepakbola pragmatisme ini ditanggapi enteng saja oleh Alf Ramsey. “Saya dipekerjakan hanya untuk memenangkan pertandingan, itu saja,” katanya, dikutip dari BBC pada 2003 silam.

Evolusi Taktik yang Berawal di Liga

Euforia 1966 tak pernah kembali terulang. Ada banyak alasan mengapa Inggris selalu gagal dalam turnamen internasional besar hampir setengah abad terakhir: skuat tidak seimbang, kemampuan pemain yang payah, tak adanya struktur taktis, nasib buruk atau jeleknya mental bermain menjadi faktor mengapa Three Lions tak bisa lagi menjuarai Piala Dunia.

Namun mengulang seperti kejadian di masa silam, masalah-masalah di atas akan selesai saat orang asing datang membantu, kali ini dengan cara yang berbeda.

Kehadiran pelatih-pelatih muda jenius dari negeri luar seperti Pep Guardiola (Spanyol), Juergen Klopp (Jerman), Jose Mourinho (Portugal), Manuel Pochetino (Argentina) dan jangan lupa Rafaez Benitez satu dekade silam di Liga Inggris membuat kerja Gareth Southgate di timnas Inggris tak terlalu berat.

Masuknya Jose Mourinho pada 2004, yang memperkenalkan permainan dengan satu penyerang bernama Drogba, mematahkan “kebiasaan kuno” bermain dengan dua penyerang. Ditambah kemunculan Rafael Benitez, yang memicu perang di berbagai medan (dari perang mulut hingga taktikal) dengan Mourinho, membuat Inggris pelan-pelan mulai belajar hal-hal baru.

Saat Ferguson membawa Manchester United menjuarai Liga Champions pada 2008, ia memainkan tiga pemain menyerang yang melakoni peran bermain cair. Tevez, Ronaldo dan Rooney diizinkan bergerak bebas, saling bertukar posisi, naik turun menjemput bola, melebar untuk membuka ruang, dan segala hal yang 10 tahun sebelumnya nyaris tak terbayangkan akan muncul di Old Trafford.

Cara bermain United itu bisa dibaca bukan semata pengaruh duel-duel dengan tim-tim Eropa di Liga Champions, karena cara main itu terutama juga dipraktikkan dari pekan ke pekan di Liga Inggris. Dominasi Chelsea era Mourinho dengan 4-3-3, atau keberhasilan Benitez memperkenalkan 4-2-3-1, adalah katalisator yang memicu Fergie beradaptasi.

14 tahun dari kedatangan Mourinho, setelah manajer-manajer yang obsesif pada taktik silih berganti memimpin klub Inggris, dari Mourinho, Benitez, sampai Guardiola, Van Gaal Conte dan Pochettino, akhirnya Inggris bisa bermain di Piala Dunia dengan pendekatan taktikal yang benar-benar baru. Southgate menggunakan formasi 3-3-2-2, salah satu formasi paling unik — untuk tidak disebut canggih — di pagelaran Piala Dunia kali ini.

Formasi 3 bek, misalnya, sudah kerap muncul dalam 4 tahun terakhir di Inggris. Van Gaal melakukannya untuk Manchester United, usai membawa Belanda lolos ke semifinal Piala Dunia 2014 dengan formasi 3 bek, walau ia gagal di Old Trafford. Guardiola dan Pochettino juga melakukannya, dan puncaknya Conte membuat Chelsea juara dua tahun lalu dengan pakem 3-4-3.

Steve Holland, asisten Southgate, adalah salah satu sosok penting di balik penggunaan formasi 3 bek yang digunakan Inggris. Pengalamannya di Chelsea, terutama pengalaman mendampingi Conte, membuatnya fasih cara memimpin sesi latihan dalam pakem 3 bek ini.

Situasinya agak jelas. Ada prakondisi yang membuat Southgate mungkin menggunakan sistem tiga bek: cukup banyak pemain Inggris yang bermain dengan cara itu dalam kesehariannya di liga.

Dari Pohecttino hingga Bielsa

Racikan Pep di Manchester City menitikberatkan pergerakan yang cair pada Raheem Sterling, John Stones, Kyle Walker dan Fabian Delph memang membuat Inggris lebih stabil. Begitupun polesan Klopp pada Trent-Alexander Arnold dan Henderson atau Mourinho pada Jesse Lingard dan Marcus Rasford.

Namun Southgate rasa-rasanya lebih dekat dengan apa yang dilakukan Pochettino. Saat kali pertama didapuk sebagai pelatih timnas Inggris pada Oktober 2016, pada laga pertama menghadapi Slovenia, pelatih berusia 47 tahun ini dituding The Independent meniru secara habis-habisan apa yang dilakukan Pochetino di Tottenham Hotspurs. Ia memaksimalkan serangan dari dua full-back Spurs, Daniel Rose dan Kyle Walker (yang kala itu sudah pindah ke City).

Saat memimpin Inggris, Southgate langsung membawa skuat Inggris berlatih di Enfield, kompleks pelatihan Spurs. Selama dua tahun terakhir, Southgate pun dikabarkan sering berjumpa dan berdikusi dengan Pochettino soal taktik sepakbola. Kemiripan bisa dilihat dari gaya counterpressing, penggunaan pemain muda yang energik dan pakem tiga bek jadi.

Pochettino adalah pelatih yang tak suka bermain melebar. Untuk menjaga lebar lapangan ia lebih mengedepankan peran dari full-back ketimbang gelandang sayap yang akan bergerak ke sisi yang lebih dalam. Dan itu tampak pada Piala Dunia kali ini. Inggris tak memasang penyerang yang berkarakter melebar. Peran itu lebih dibebankan pada Kevin Trippier dan Ashley Young yang posisi “resminya” adalah wingback.

Dalam soal bertahan Southgate menerapkan betul taktik counterpressing. Kunci taktik ini transisi cepat ke formasi bertahan ketika bola dikuasai lawan. Ketika bertahan semua pemain akan turun membentuk 5-3-2 di area pertahanan mereka. Pressing ala Pochettino berbeda dengan Klopp, Simeone atau Pep yang dilakukan secara cepat, dilakukan saat itu juga di mana pun bola berada. Pochettino lebih kalem, dan fokus pada mengorganisasi pertahanan lebih dulu dalam transisi dari menyerang ke bertahan.

“Kami melihat perbedaan yang jelas, kini mereka mampu memainkan permainan menekan,” kata Southgate kepada The Independent. “Ada dampak siginifikan pada semua pemain Spurs dari pelatihan yang dilakukan Pochettino,” katanya.

Sedangkan dalam konteks formasi pola formasi 3-3-2-2 diterapkan Southgate juga lebih dekat dengan formasi 3-3-3-1 yang dimainkan Pochettino di Spurs ketimbang 3-4-3 ala Conte. Pakem tiga bek Pochettino sebenarnya terpengaruh juga dari Marcelo Bielsa yang dianggap Pochettino sebagai gurunya.

Salah satu dari ciri tiga bek Bielsa adalah ia seringkali memasang seorang full-back di posisi bek tengah dengan alasan kemampuan penguasaan kontrol dan dribbling yang lebih baik. Skema Bielsa menuntut build up serangan akan diawali dari posisi bek tengah.

Dalam konteks penguasaan di tengah, sistem tiga bek ini menempatkan beban cukup besar di gelandang tengah yang berperan anchor. Di Spurs peran ini diemban Eric Dier. Di Inggris, Southgate memodifikasinya lewat Henderson yang lebih diplot sebagai gelandang bertahan murni ketimbang sebagai holding midfielder sebab pergerakan Young dan Trippier yang sering overlapp.

Faktor terpenting Pochettino bagi timnas Inggris adalah kepercayaannya kepada pemain lokal. Tanpa itu mungkin pemain seperti Delle Alli, Harry Kane, Kevin Trippier dll., tak akan bersinar.

“Bagi saya yang paling penting di sini di Inggris adalah mencoba untuk mendukung pemain Inggris,” tutur Pochettino kepada Independent.

Gaya Main Kontinental dan Eksekusi Akhir Cara Lokal

Kesadaran bahwa gaya bermain Inggris sudah kelewat kuno sudah berlangsung lama. Hal itu membuat Inggris pernah terobsesi untuk bermain dengan gaya kontinental yang menerapkan bola-bola bawah yang dimainkan dengan umpan pendek ketimbang bermain direct yang mengandalkan bola-bola panjang ala kick n rush.

Dua dekade lalu, pada pertengahan tahun 1990an, pers Inggris senang betul menyebut cara bermain Chelsea saat dipimpin Gullit — kemudian dilanjutkan Gianluca Vialli — sebagai “sexy football” yang mengandalkan umpan-umpan pendek. Chelsea dipuji menjadi jeda dari kebosanan melihat umpan-umpan panjang monoton yang tersaji setiap akhir pekan di liga.

Kini, Inggris bermain dengan cara yang relatif baru. Southgate memanfaatkan semua potensi yang dimiliki para pemainnya yang relatif punya pengalaman taktikal lebih variatif di klubnya masing-masing.

Namun Southgate bukanlah tukang foto copy yang buruk dan membabibuta. Kendati mengadopsi banyak hal yang dilakukan apra pelatih asing di Liga Inggris, namun dia pun berhasil mengeksploitasi sesuatu yang sudah lama menjadi kekuatan Inggris: aspek fisik dan kemahiran memainkan bola di udara dalam eksekusi akhir.

8 dari 11 gol Inggris di Piala Dunia kali ini lahir dari situasi bola mati (sepak pojok, tendangan bebas maupun penalti). Hal ini memperlihatkan betapa Southgate tidak terobsesi dengan pendekatan taktik yang baru. Ia memakai taktik 3 bek, misalnya, bukan karena fanatik pada pakem tersebut, melainkan karena ia merasa taktik itu memang cocok untuk materi pemain yang ia miliki. Kemahiran Inggris dalam bola mati juga menunjukkan: gaya bermain kontinental tak membuatnya menjadi buta pada pendekatan lama yang memang sudah menjadi alami bagi pemain Inggris.

Maka jadilah Inggris seperti yang kita lihat di Piala Dunia 2018 kali ini: canggih secara taktik, tetap British dalam penyelesaian akhir