Category: Sepak Bola

Evolusi Taktik Deschamps Selama Piala Dunia 2018

Pelatih timnas Prancis Didier Deschamps. AP Foto / Laurent Cipriani

Orang-orang Perancis menggilai anggur. Berkat Didier Deschamps, setidaknya di Piala Dunia 2018, mereka juga menggilai sepakbola seperti menggilai anggur.

Saat tandukan Samuel Umtiti berhasil membobol gawang Thibaut Courtois pada menit ke-51, teriakkan “buuut!” [gol] tidak hanya menggema di Stadion St Petersburg, tempat dilangsungkannya pertandingan semifinal Piala Dunia 2018. Di Bordeaux, Marseille, Paris, hingga sudut-sudut terpencil Perancis, teriakan itu tak kalah membikin gaduh.

Menjelang laga semifinal bubar, sementara para penggemar Perancis di atas tribun stadion mulai melompat-lompat sambil menyanyikan “Qui ne saute pas n’est pas francais” [kurang lebih berarti “siapa yang tidak melompat bukan orang Perancis”], penggemar di rumah sudah bersiap memadati jalanan di kota-kota Perancis untuk merayakan kemenangan.

Perancis akhirnya menang 1-0. “Allez les blues!” [go the blues] kemudian diteriakkan orang-orang Perancis secara kompak, baik yang berada di stadion maupun yang sudah berjalan untuk memadati Champs Elysees, Paris.

“Malam ini kami sangat bangga menjadi orang Perancis!,” teriak Alia dan Sacha, dua anak sekolah asal Paris yang ikut turun ke jalanan hari itu, dilansir dari The Local. Sementara Alia dan Sacha merasa bangga, Sebastien mulai bernostalgia dengan kesuksesan Perancis di Piala Dunia 1998: “Saya baru berusia 18 pada tahun 1998 lalu, itu adalah malam terbaik di sepanjang hidup saya. Kami akan mengulangnya pada hari Minggu nanti.”

Thierry Perier, yang saat itu merayakan pesta kemenangan Perancis atas Belgia bersama anaknya yang sedang berusia delapan tahun, tak mau kalah. Ia mengatakan, “Kami membutuhkan hal-hal seperti ini di Perancis, kami pantas mendapatkannya. Kami memiliki pemain-pemain terbaik dan untuk mengangkat moral orang-orang Perancis, memenangi Piala Dunia akan bisa menjadi hadiah yang tak tergantikan.”

Saat ini Perancis memang belum menjadi juara Piala Dunia 2018. Untuk meraihnya mereka masih harus melangkah satu kali lagi, yaitu bertanding melawan Kroasia atau Inggris di laga final. Kekalahan bisa membuat euforia tersebut seperti omong kosong, bahkan bisa juga berubah menjadi caci maki.

Namun Deschamps berjanji untuk tidak akan merusak kebahagian orang-orang Perancis itu. Setelah kemenangan atas Belgia, ia mengatakan, “Saya berada di sini [menjadi pelatih Perancis] untuk menulis lembaran baru di dalam sejarah.”

Taktik Deschamps Sempat Diragukan

Sebelum Piala Dunia 2018 dimulai, Patrick Urbini, penulis sepakbola Perancis, tidak yakin Perancis bisa berbuat banyak di Piala Dunia 2018. Menurutnya, di bawah asuhan Didier Deschamps, Perancis cenderung bermain bertahan, menekankan serangan balik, dan lebih mengandalkan kemampuan individu para pemainnya saat menyerang daripada bermain secara kolektif. Singkat kata, terutama dalam menyerang, Les Blues masih jauh dari kesan kohesif.

Saat menghadapi lawan-lawan yang lebih bagus secara kualitas, pendekatan Deschamps tersebut mungkin dapat bekerja, tetapi Perancis hanya bergabung bersama Australia, Peru, dan Denmark di putaran grup Piala Dunia 2018. Di atas kertas tim-tim tersebut kalah kualitas dari Perancis. Mereka kemungkinan akan bermain bertahan saat menghadapi Perancis. Itu artinya, jika tetap menekankan serangan balik, Perancis akan kesulitan saat menghadapi mereka.

Dengan pendekatan seperti itu, Perancis benar-benar kesulitan saat menghadapi Australia di pertandingan pertama. Bermain dengan formasi 4-3-3, menghadapi Australia yang bermain bertahan dengan formasi 4-4-1-1, Perancis tak berkembang.

Paul Pogba, N’golo Kante, dan Corentin Tolisso, bermain terlalu dekat dengan garis pertahanan Perancis. Akibatnya, trio penyerang Perancis, Kylian Mbappe, Antonie Griezmann, serta Ousname Dembele jarang mendapatkan suplai bola dari pemain-pemain tengah. Peran mereka di lini depan kemudian tidak efisien, mereka bahkan terskesan bermain sendiri-sendiri.

Pada babak kedua, terutama setelah Australia berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1, Deschamps melakukan perubahan. Olivier Giroud dan Nabil Fekir dimasukkan menggantikan Griezmann dan Dembele. Tujuannya, saat Perancis kesulitan mengirimkan umpan-umpan pendek ke lini depan, mereka bisa bermain secara direct.

Namun karena pendekatan tersebut tak kunjung membuahkan hasil, Deschamps sekali lagi melakukan perubahan: Matuidi dimasukkan untuk menggantikan Tolisso. Ia akan bermain sebagai gelandang sebelah kiri, sementara Pogba digeser di sebelah kanan, menggantikan posisi Tolisso.

Selain melakukan perubahan posisi, Deschamps juga menginstruksikan Pogba lebih sering maju ke depan. Hasilnya ternyata mujarab. Gol bunuh diri Aziz Behich, yang menjadi gol penentu kemenangan Perancis, berawal dari pergerakan Pogba. Sementara BBC memilih Pogba sebagai man of the match, Deschamps tak luput memuji penampilan gelandang Manchester United tersebut.

“Pogba tampil bagus hari ini,” ujar Deschamps, “Dia memiliki kebebasan dan juga berkontribusi saat bertahan. Dia mampu tampil lebih baik dengan tiga pemain tengah daripada dua pemain tengah, kita bisa melihat itu dan saya merasa dia sudah memainkan perannya dengan baik.”

Saat menghadapi Peru, berdasarkan penampilan Perancis di babak kedua saat menghadapi Australia, Deschamps kemudian melakukan perubahan taktik. Untuk mendukung Pogba, ia memainkan formasi 4-2-3-1 asimetris. Di flank sebelah kiri, daripada memainkan seorang pemain sayap, ia justru memainkan Matuidi. Saat menyerang maupun bertahan, daripada bermain melebar, Matuidi akan bermain merapat dengan Pogba dan Kante yang bermain sebagai double-pivot.

Dengan begitu, Pogba bisa maju ke depan dengan lebih leluasa, pada saat bersamaan Perancis juga tidak akan kehilangan keseimbangan. Terlebih, saat Perancis dalam transisi bertahan, Pogba juga mempunyai kelebihan dalam melakukan tekel di daerah lawan yang mampu menghambat transisi serangan lawan.

Sekali lagi, meski Perancis masih tampil jauh dari harapan, Pogba menjadi kunci kemenangan Perancis dalam laga tersebut. Gol Kylian Mbappe, satu-satunya gol yang terjadi dalam pertandingan tersebut, berawal dari tekel yang dilakukan Pogba di daerah pertahanan Peru.

Meski berhasil menjadi juara grup setelah menahan imbang Denmark 0-0 dengan sejumlah pemain cadangan, penampilan Perancis ternyata masih jauh dari kata memuaskan. Mereka dinilai terlalu bertahan dan kesulitan melakukan serangan saat menghadapi lawan yang bermain bertahan.

Dalam tulisannya di Financial Times, Simon Kuper secara blak-blakan mengatakan, “Semua pertandingan Perancis di [putaran grup] Piala Dunia 2018 berlangsung membosankan.” Menurutnya, Perancis mandul tidak dan bisa berkembang di dalam setiap pertandingan.

Sementara Stuart James, penulis Guardian yang menyaksikan pertandingan Perancis melawan Denmark, juga mengeluhkan hal yang tak jauh berbeda. Ia menulis, “Perancis hanyalah sekumpulan individu yang tak mampu tampil secara kohesif.”

Dua penulis sepakbola itu memang tak salah. Di putaran grup Perancis hanya mampu mencetak 3 gol dalam 3 pertandingan. Bahkan dua dari tiga gol tersebut “membutuhkan” bantuan VAR [Video Assistant Referee]. Menyoal permain Perancis yang kurang kohesif, itu dapat dinilai dari peran tunggal Pogba di dalam setiap penampilan Perancis: tiga gol yang dicetak Perancis tersebut terjadi berkat usaha Pogba, bukan karena permainan kolektif tim.

Adaptasi Taktik Deschamps

Menjelang babak 16 besar, Deschamps lalu menanggapi kritikan tersebut dengan santai, bahkan cenderung optimistis. “Kompetisi kedua [fase sistem gugur] dimulai sekarang,” ujarnya. “Kekuatan Perancis akan muncul dengan sendirinya.”

Menghadapi Argentina di babak 16 besar, kembali bermain dengan formasi 4-2-3-1 asimetris, penampilan Perancis benar-benar jauh berbeda dengan penampilan mereka di putaran grup: Perancis mampu tampil menarik. Saat itu cara bermain Argentina yang menekankan penguasaan bola memang menguntungkan pendekatan Deschamps. Namun dalam melancarkan serangan balik, Perancis tidak hanya mengandalkan Pogba tapi juga mampu bermain sebagai tim.

Duet full-back Perancis, yang sebelumnya tak banyak berkontribusi saat Perancis menyerang, menjadi senjata Perancis saat anak asuh Didier Deschamps tersebut bermain melebar. Dengan begitu, saat Pogba kesulitan untuk mengirimkan umpan ke arah Mbappe, Pavard bisa membantunya. Sementara Hernandez bisa tetap membuat Perancis berbahaya dari sisi kiri meski Matuidi berperan sebagai defensive winger.

Dalam pertandingan tersebut, Lucas Hernadez dan Benjamin Pavard kemudian terlibat dalam proses tiga gol dari empat gol yang dicetak oleh timnya. Sementara Pavard mencetak satu gol, Hernandez mengirimkan dua umpan silang yang berhasil dikonversi menjadi gol.

Selain itu, gol keempat Perancis dapat menunjukkan bahwa mereka mampu menyerang secara kohesif. Melibatkan Kante, Matuidi, Griezmann, Giroud, dan Mbappe, gol itu dibangun dari lini belakang dan hanya membutuhkan tujuh kali sentuhan.

Menyoal peran Matuidi sebagai defensive winger yang sebelumnya dinilai kurang efektif, terbatasnya pergerakan Messi dalam pertandingan tersebut bisa menjawab kritik yang diarahkan kepada Deschamps. Menurut Michael Cox, dalam analisisnya di Independent, Matuidi merupakan pemain kunci dalam kemenangan Perancis tersebut.

Infografik Didier Deschamps

“Ia mampu meminimalisir ruang Linoel Messi,” tulis Cox. “Di sisi kanan lini serang Argentina, Matuidi mampu melakukan postioning dengan baik, dan melakukan beberapa kali intersep penting.”

Setelah kembali tampil meyakinkan dengan cara yang sama saat menghadapi Uruguay di babak perempat-final, saat menghadapi Belgia di babak semifinal Deschamps sekali lagi menunjukkan bahwa ia adalah seorang pelatih yang adaptatif.

Dalam pertandingan tersebut, Marouane Fellaini diberi tugas oleh Roberto Martinez untuk melakukan man-to-man marking terhadap Pogba. Selain itu, mantan pelatih Everton itu juga menginstruksikan Eden Hazard untuk bermain lebih melebar di sisi kiri, memaksa Benjamin Pavard sibuk dalam bertahan. Dengan begitu, Mbappe tidak akan mendapatkan dukungan dari kedua pemain itu.

Pada awal laga, pendekatan itu memang menyulitkan Perancis untuk membangun serangan. Namun, Deschamps kemudian melakukan perubahan menarik: Pogba diberi tugas untuk lebih bertahan, membantu Pavard untuk mengatasi Hazard. Dengan begitu, karena Kevin De Bruyne kesulitan untuk menghadapi Kante dan Matuidi, Belgia dipaksa mengandalkan Nacer Chadli, yang bermain sebagai full-backkanan, untuk melakukan serangan.

Saat Chadli sering maju ke depan, Griezmann dan Giroud sering bermain berdekatan di sisi kanan pertahanan Belgia. Perancis ingin mengandalkan serangan dari kedua pemain tersebut: Griezmann dijadikan sebagai pusat transisi serangan dan Giroud sebagai penghubung. Mereka berdua kemudian berhasil mengacaukan keseimbangan permainan Belgia.

Dengan pendekatan seperti itu, meski terus ditekan, Perancis justru tampak lebih berbahaya di sepanjang babak pertama. Sementara Belgia hanya mampu melakukan 3 kali percobaan tembakan ke arah gawang, Perancis berhasil melakukannya 11 kali. Dari 11 percobaan tembakan pemain-pemain Perancis tersebut, 8 di antaranya dilakukan oleh Giroud [3] dan Griezmann [5].

Setelah Perancis unggul di babak kedua, Belgia memang beberapa kali melakukan perubahan. Namun, perubahan taktik tersebut tidak memberikan dampak yang cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dari keputusan Deschamps untuk memasukkan N’Zonzi, menggantikan Giroud, pada menit ke-85. Saat itu, tahu bahwa Belgia sudah tidak mempunyai jalan, ia memilih untuk membunuh pertandingan sebelum laga benar-benar bubar. Berkat taktik Deschamps, Perancis pun melaju ke babak final.

Menurut Jonathan Wilson, dalam bukunya Inverting The Pyramid, taktik adalah seni dalam memanipulasi ruang. Maka, saat Deschamps kembali menerapkan formasi 4-2-3-1 asimetris di pertandingan final Piala Dunia 2018 nanti, formasi itu tidak akan berhenti pada empat bek sejajar, dua double pivot, tiga gelandang serang, dan satu penyerang tengah. Selama ada ruang yang dapat dimanipulasi, dengan mengubah peran para pemainnya, Deschamps akan selalu beradaptasi.

Bagaimana Orang-Orang Asing Mengubah Taktik Timnas Inggris

Ada anekdot kasar tentang Inggris dan sepakbola. Hanya dua kontribusi Inggris terhadap sepakbola, kata anekdot itu, yaitu rules of the games dan rules of the money.

Inggris memang tanah air bola. Di sanalah aturan permainan yang paling mendasar dari permainan ini dirumuskan dan dibakukan. Industri sepakbola modern juga patut berterimakasih kepada Inggris yang, pada 1992, berhasil membuktikan bahwa kompetisi sepakbola bisa menjadi tambang laba yang luar biasa. Inggris yang mengajarkan dunia perkara peraturan bermain serta pengaturan modal dan laba.

Namun dalam soal pengembangan taktik sepakbola, Inggris selalu tertinggal ketimbang negara lain. Hulu dari semua ini adalah kepongahan yang menjadi karakter bangsa Inggris sendiri. Dan sifat ini terjadi sejak awal abad 19.

Sebagai negara imperial yang kekuasaannya membentang ke seluruh penjuru dunia, bahkan disebut sebagai negarayang tidak mengenal matahari tenggelam, Inggris bukan hanya menjadi penemu sepakbola modern tapi kekuatan dunia yang sebenarnya.

Aparat kolonial Inggris inilah, entah itu serdadu atau pegawai sipil, juga para pedagang, buruh dan pelaut Inggris di seluruh dunia, yang menyebarkan sepakbola. Merekalah yang bertanggungjawab atas meluasnya sepakbola hingga hari ini. Sastrawan Argentina, Jore Luis Borges, sampai berujar: “Sepakbola, sebagaimana kriket dan golf, ialah dosa bangsa Inggris yang sukar dimaafkan.”

Memasuki abad 20, saat tata dunia sudah mulai berubah, dan Inggris sebenarnya tidak lagi menjadi pemain tunggal dalam konstelasi global, sepakbola semakin berkembang, termasuk dalam pengorganisasian. Kebutuhkan untuk membangun asosiasi yang mengatur pertandingan sepakbola antar negara semakin terasa mendesak.

Pada awalnya Inggris diharapkan memimpin asosiasi itu, namun munculah Perancis lewat Julies Rimet yang menggagas FIFA pada Mei 1904 di Paris. Inggris enggan bergabung, terutama karena merasa sebagai supoerior dan merasa tak perlu ikut-ikutan. Apalagi rivalitas antara Inggris-Perancis membuat Inggris makin malas bergabung dengan FIFA, dan baru bergabung pada 1906.

Namun tak lama kemudian, Inggris menekan FIFA agar menyingkirkan anggota FIFA yang bergabung dengan Central Powers (dengan poros utama: Jerman dan Austria-Hungaria), musuh Inggris (yang bergabung dengan Allied Powers) dalam Perang Dunia I. FIFA menolak, Inggris (bersama Wales, Irlandia dan Skotlandia) keluar dari FIFA. Mereka bergabung lagi dengan FIFA pada 1924.

Itu pun tak lama. Negara-negara Inggris Raya kembali bersitegang dengan FIFA dalam isu pembayaran untuk para pemain amatir dan kembali mereka meninggalkan FIFA pada 1928 dengan alasan resmi: “Kami harus dibebaskan melakukan urusan (apa pun) berdasarkan pengalaman panjang kami”.

Saat Piala Dunia pertama kali digelar pada 1930 di Uruguay, Inggris diundang untuk berpartisipasi walau bukan anggota FIFA, namun mereka tak pernah menjawab undangan itu. Dua insiden itu mencerminkan, dalam istilahnya Scott Muray (editor olahraga The Guardian dan penulis buku The Panthom of the Open), “keangkuhan berskala besar”.

Saat orang Perancis yang lain, Henry Delauney, menginisiasi kelahiran UEFA, lagi-lagi Inggris menolak bergabung. Inggris juga menolak ikut Piala Eropa pertama pada 1960, dan Chelsea yang saat itu menjadi juara liga juga didesak tidak ikut Piala Champions pertama pada 1955/1956.

Untuk perasaan superior itu, FIFA dan UEFA lahir tanpa keterlibatan Inggris. Tak perlu heran jika kepanjangan resmi FIFA dan UEFA sebenarnya dalam bahasa Perancis, bukan Inggris.

Superioritas yang Memicu Ketertinggalan

Sejarawan Peter Beck dalam bukunya berjudul Scoring for Britain menyebut kondisi itu disebabkan Inggris sendiri yang terlalu yakin pada keunggulan mendasar sepakbola dan kompetisi liga domestik.

Argumen ini bisa dilacak dari sikap Inggris yang menganggap pertandingan internasional bukan sesuatu hal penting.  Pernyataan dari ketua FA, Charles Sutcliffe saat menarik Inggris dari FIFA pada 1928 mungkin bisa jadi gambaran argumen itu.

“Saya tidak peduli dengan peningkatan permainan di Prancis, Belgia, Austria atau Jerman. FIFA tidak menarik bagi saya. Sebuah organisasi di mana asosiasi sepak bola seperti Uruguay, Paraguay, Brasil, Mesir dan pan Rusia disetarakan dengan Inggris, Skotlandia, Wales dan Irlandia adalah kasus membandingkan orang cebol dengan orang normal,” katanya, dikutip dari buku Sport: Almost Everything You Ever Wanted to Know.

“Jika Eropa Tengah atau wilayah lain ingin mengatur sepakbola, biarkan mereka membatasi kekuasaan dan otoritas mereka untuk diri mereka sendiri dan kita bisa mengurus urusan kita sendiri,” tuturnya lagi. Itulah mengapa Inggris menolak ikut bertanding pada Piala Dunia 1930, 1934 dan 1938.

Sikap Inggris  mulai luluh usai Perang Dunia II. Mereka mulai berfikir banyak manfaat yang bisa didapat dari integrasi, alih-alih menyendiri dan terisolasi dari tren dunia. Tokoh utama pendekatan ini adalah sekretaris FA, Stanley Rous. Kelak pada 1961 ia akan menjadi Presiden FIFA. Rous melihat sepakbola sebagai cara mempertahankan pengaruh Inggris dalam tatanan global dalam ketidakpastian pasca perang. Ia mengajak Inggris bergabung kembali dengan FIFA pada 1946.

Perlahan tapi pasti ia sukses membawa kembali bekas pelatih timnas Swedia, George Raynor, pulang ke Inggris sebagai direktur teknik. Raynor adalah pelatih jenius secara taktik. Ia mampu memberi medali emas Olimpiade 1948 kepada Swedia.

Sayangnya, Raynor tak dihargai di kampungnya sendiri. Ia pun kembali pulang ke Swedia dan sukses mengantarkan negara itu ke Final Piala Dunia 1958. Perlakuan pongah dari Inggris membuat Raynor lebih senang disebut sebagai orang Swedia ketimbang Inggris. Hal ini ia ungkap dalam buku berjudul A Prophet Without Honour.

Inggris kali pertama muncul pada Piala Dunia 1950. Mereka tampil baik di laga pertama mengalahkan Chili 2-0, namun kemudian kalah dalam dua pertandingan berikutnya, salah satunya 1-0 melawan tim AS yang hampir seluruhnya terdiri dari pemain amatir. Sayangnya kegagalan ini ditanggapi biasa saja oleh publik Inggris. Turnamen ini juga tidak memikat publik Inggris, seperti yang ditulis oleh sejarawan Matthew Taylor:

“Media menunjukkan sedikit minat dalam turnamen: Tidak ada komentar radio BBC atau siaran televisi dan beberapa surat kabar, seperti Times, bahkan tidak mengirim koresponden.”

Kurangnya antusiasme ini menunjukkan perhatian publik Inggris pada Piala Dunia sangatlah kecil. Kepongahan di tingkat federasi ternyata juga menjalar ke publik Inggris yang ikut-ikutan menilai pertandingan internasional sebagai hal remeh. Dan itu menghukum Inggris.

Saat negara-negara lain sudah memodifikasi pengembangan WM mulai dari sistem MM Gustav Sebez di Hungaria, Verrou ala pelatih Swiss Karl Rappan atau slingerback ala Richard Kohn, Inggris masih patuh pada pakem Albert Chapman yang populer pada 1930-an.

Mata publik Inggris baru terbelalak ketika cahaya Mighty Magyar menerangi Wembley pada 25 November 1953. Saat itu secara mengejutkan Inggris digebuk 3-6 oleh timnas Hungaria di depan pendukung mereka sendiri.

“Tentu saja orang mengira kami akan menang tetapi kami mendapat pelajaran yang tepat hari itu,” kata Jackie Sewell dikutip dari BBC. “Saya tidak berpikir kami seburuk itu tetapi mereka luar biasa, mudah tim terbaik yang pernah saya lihat bermain sepakbola. Gerakan mereka luar biasa. Mereka dengan mudah melewati kita. Mereka memainkan segitiga-segitiga kecil, yang seperti Anda lihat pada sepakbola modern sekarang”

Saat berjumpa dengan Inggris, pelatih Gustav Sebes memperkenalkan formasi 4-2-4 pengembangan dari WM yang dipakai Inggris. Hungaria tidak memakai 4 bek sejajar, formasi mereka masih seperti WM dengan tiga bek, namun ada satu gelandang yang diposisikan di depan bek tengah jadi menyerupai seperti ada 4 bek. Sedangkan Inggris masih memakai WM yang menaruh lima pemain di depan yang bergerak statis sesuai nomor punggung.

Inggris tampil seperti orang-orang gunung yang tak pernah melihat sepakbola. Mereka bisa dibilang sangat katrok karena kebingungan: “Kok bisa ada pemain nomor 10 turun ke bawah? Kok bisa di belakang ada sampai 4 pemain?” Dan lain-lain, dan sebagainya.

Sir Stanley Matthews yang hebat, dalam otobiografi yang diterbitkan pada tahun 2000, mengakui bahwa Inggris saat itu ketinggalan zaman. Ia menambahkan: “Hungaria menggabungkan dua gaya: gara intersep dan direct ala sepakbola Inggris dengan bola-bola pendek yang jadi ciri khas Amerika Selatan. Itu adalah kombinasi imajinatif dari kontrol bola yang menuntut, kecepatan gerakan dan visi esoterik yang dirajut bersama untuk merumuskan gaya sepakbola yang inovatif seperti itu produktif. Jauh sebelum peluit akhir, kemuliaan masa lalu sepakbola kita telah berakhir.”

Enam bulan kemudian, orang-orang Hungaria ini kembali mendidik lelaki Inggris dengan menghancurkan mereka 7-1 di Budapest. Usai insiden ini, pada Piala Dunia 1954, Inggris lebih merasa inferior. Mereka memang sukses melenggang ke perempatfinal sebelum akhirnya digentikan Uruguay 4-2.

Untuk kali pertama media Inggris mengakui diri mereka memang terlalu pongah, seperti tertuang dalam artikel dirilis The Guardian sehari setelah kekalahan ini.

“Faktanya bahwa orang Uruguay secara teknis adalah pemain yang jauh lebih baik. Kontras antara kedua tim tidak hanya terletak pada keterampilan individu tetapi dalam kerja tim. Ketika serangan Inggris mencapai zona bahaya biasanya ada tujuh atau lebih pemain Uruguay menghentikan mereka,” tulis Guardian. Laporan Guardian menjelaskan: Uruguay kala itu baru saja mengajarkan Inggris cara bermain zonal.

Dampak dari kekalahan atas Hungaria dan Uruguay terasa begitu luas. Inggris pelan-pelan mulai belajar apa yang terjadi di dunia sepakbola. Formasi WM yang sudah sangat usang mulai ditinggalkan. Pengunaan formasi 4-2-4, yang kemudian menjadi 4-4-2, semakin luas. Dan domino perubahan itu merembet hingga kemenangan Inggris pada Piala Dunia 1966. Dari 1953 saat dipermak Hungaria, mereka baru menemukan manfaatnya pada 1966, hampir 13 tahun kemudian.

Taktik Hungaria menekankan serangan dari tengah menginspirasi Alf Ramsey yang pada waktu itu bermain sebagai bek kanan, menihilkan posisi pemain gelandang sayap di timnas Inggris pada Piala Dunia 1966.

Tim asuhan Ramsey kala itu dijuluki sebagai ‘Wingless Wonders’, formasi Inggris kala itu lebih mirip seperti 4-4-2 diamond, dengan Bobby Charlton didorong lebih tinggi ketimbang Alan Ball dan Martin Peters.

Alf Ramsey pun memadukan kombinasi taktik Swedia dan Brazil. Tak seperti Brazil yang memasang deep-lying playmaker pada posisi gelandang bertahan, Ramsey lebih condong memakai Nobby Styles berkarakter anchor-man yang mau bertarung dan fokus untuk bertahan. Pakem ini mirip seperti diterapkan Swedia yang dikenal solid dalam bertahan.

Saat juara 1966, dengan skema ini Inggris sebenarnya dikritik memainkan sepakbola yang membosankan. Permainan lebih menitikberatkan pada adu fisik, direct langsung ke tengah.

“Sepakbola pragmatisme ini ditanggapi enteng saja oleh Alf Ramsey. “Saya dipekerjakan hanya untuk memenangkan pertandingan, itu saja,” katanya, dikutip dari BBC pada 2003 silam.

Evolusi Taktik yang Berawal di Liga

Euforia 1966 tak pernah kembali terulang. Ada banyak alasan mengapa Inggris selalu gagal dalam turnamen internasional besar hampir setengah abad terakhir: skuat tidak seimbang, kemampuan pemain yang payah, tak adanya struktur taktis, nasib buruk atau jeleknya mental bermain menjadi faktor mengapa Three Lions tak bisa lagi menjuarai Piala Dunia.

Namun mengulang seperti kejadian di masa silam, masalah-masalah di atas akan selesai saat orang asing datang membantu, kali ini dengan cara yang berbeda.

Kehadiran pelatih-pelatih muda jenius dari negeri luar seperti Pep Guardiola (Spanyol), Juergen Klopp (Jerman), Jose Mourinho (Portugal), Manuel Pochetino (Argentina) dan jangan lupa Rafaez Benitez satu dekade silam di Liga Inggris membuat kerja Gareth Southgate di timnas Inggris tak terlalu berat.

Masuknya Jose Mourinho pada 2004, yang memperkenalkan permainan dengan satu penyerang bernama Drogba, mematahkan “kebiasaan kuno” bermain dengan dua penyerang. Ditambah kemunculan Rafael Benitez, yang memicu perang di berbagai medan (dari perang mulut hingga taktikal) dengan Mourinho, membuat Inggris pelan-pelan mulai belajar hal-hal baru.

Saat Ferguson membawa Manchester United menjuarai Liga Champions pada 2008, ia memainkan tiga pemain menyerang yang melakoni peran bermain cair. Tevez, Ronaldo dan Rooney diizinkan bergerak bebas, saling bertukar posisi, naik turun menjemput bola, melebar untuk membuka ruang, dan segala hal yang 10 tahun sebelumnya nyaris tak terbayangkan akan muncul di Old Trafford.

Cara bermain United itu bisa dibaca bukan semata pengaruh duel-duel dengan tim-tim Eropa di Liga Champions, karena cara main itu terutama juga dipraktikkan dari pekan ke pekan di Liga Inggris. Dominasi Chelsea era Mourinho dengan 4-3-3, atau keberhasilan Benitez memperkenalkan 4-2-3-1, adalah katalisator yang memicu Fergie beradaptasi.

14 tahun dari kedatangan Mourinho, setelah manajer-manajer yang obsesif pada taktik silih berganti memimpin klub Inggris, dari Mourinho, Benitez, sampai Guardiola, Van Gaal Conte dan Pochettino, akhirnya Inggris bisa bermain di Piala Dunia dengan pendekatan taktikal yang benar-benar baru. Southgate menggunakan formasi 3-3-2-2, salah satu formasi paling unik — untuk tidak disebut canggih — di pagelaran Piala Dunia kali ini.

Formasi 3 bek, misalnya, sudah kerap muncul dalam 4 tahun terakhir di Inggris. Van Gaal melakukannya untuk Manchester United, usai membawa Belanda lolos ke semifinal Piala Dunia 2014 dengan formasi 3 bek, walau ia gagal di Old Trafford. Guardiola dan Pochettino juga melakukannya, dan puncaknya Conte membuat Chelsea juara dua tahun lalu dengan pakem 3-4-3.

Steve Holland, asisten Southgate, adalah salah satu sosok penting di balik penggunaan formasi 3 bek yang digunakan Inggris. Pengalamannya di Chelsea, terutama pengalaman mendampingi Conte, membuatnya fasih cara memimpin sesi latihan dalam pakem 3 bek ini.

Situasinya agak jelas. Ada prakondisi yang membuat Southgate mungkin menggunakan sistem tiga bek: cukup banyak pemain Inggris yang bermain dengan cara itu dalam kesehariannya di liga.

Dari Pohecttino hingga Bielsa

Racikan Pep di Manchester City menitikberatkan pergerakan yang cair pada Raheem Sterling, John Stones, Kyle Walker dan Fabian Delph memang membuat Inggris lebih stabil. Begitupun polesan Klopp pada Trent-Alexander Arnold dan Henderson atau Mourinho pada Jesse Lingard dan Marcus Rasford.

Namun Southgate rasa-rasanya lebih dekat dengan apa yang dilakukan Pochettino. Saat kali pertama didapuk sebagai pelatih timnas Inggris pada Oktober 2016, pada laga pertama menghadapi Slovenia, pelatih berusia 47 tahun ini dituding The Independent meniru secara habis-habisan apa yang dilakukan Pochetino di Tottenham Hotspurs. Ia memaksimalkan serangan dari dua full-back Spurs, Daniel Rose dan Kyle Walker (yang kala itu sudah pindah ke City).

Saat memimpin Inggris, Southgate langsung membawa skuat Inggris berlatih di Enfield, kompleks pelatihan Spurs. Selama dua tahun terakhir, Southgate pun dikabarkan sering berjumpa dan berdikusi dengan Pochettino soal taktik sepakbola. Kemiripan bisa dilihat dari gaya counterpressing, penggunaan pemain muda yang energik dan pakem tiga bek jadi.

Pochettino adalah pelatih yang tak suka bermain melebar. Untuk menjaga lebar lapangan ia lebih mengedepankan peran dari full-back ketimbang gelandang sayap yang akan bergerak ke sisi yang lebih dalam. Dan itu tampak pada Piala Dunia kali ini. Inggris tak memasang penyerang yang berkarakter melebar. Peran itu lebih dibebankan pada Kevin Trippier dan Ashley Young yang posisi “resminya” adalah wingback.

Dalam soal bertahan Southgate menerapkan betul taktik counterpressing. Kunci taktik ini transisi cepat ke formasi bertahan ketika bola dikuasai lawan. Ketika bertahan semua pemain akan turun membentuk 5-3-2 di area pertahanan mereka. Pressing ala Pochettino berbeda dengan Klopp, Simeone atau Pep yang dilakukan secara cepat, dilakukan saat itu juga di mana pun bola berada. Pochettino lebih kalem, dan fokus pada mengorganisasi pertahanan lebih dulu dalam transisi dari menyerang ke bertahan.

“Kami melihat perbedaan yang jelas, kini mereka mampu memainkan permainan menekan,” kata Southgate kepada The Independent. “Ada dampak siginifikan pada semua pemain Spurs dari pelatihan yang dilakukan Pochettino,” katanya.

Sedangkan dalam konteks formasi pola formasi 3-3-2-2 diterapkan Southgate juga lebih dekat dengan formasi 3-3-3-1 yang dimainkan Pochettino di Spurs ketimbang 3-4-3 ala Conte. Pakem tiga bek Pochettino sebenarnya terpengaruh juga dari Marcelo Bielsa yang dianggap Pochettino sebagai gurunya.

Salah satu dari ciri tiga bek Bielsa adalah ia seringkali memasang seorang full-back di posisi bek tengah dengan alasan kemampuan penguasaan kontrol dan dribbling yang lebih baik. Skema Bielsa menuntut build up serangan akan diawali dari posisi bek tengah.

Dalam konteks penguasaan di tengah, sistem tiga bek ini menempatkan beban cukup besar di gelandang tengah yang berperan anchor. Di Spurs peran ini diemban Eric Dier. Di Inggris, Southgate memodifikasinya lewat Henderson yang lebih diplot sebagai gelandang bertahan murni ketimbang sebagai holding midfielder sebab pergerakan Young dan Trippier yang sering overlapp.

Faktor terpenting Pochettino bagi timnas Inggris adalah kepercayaannya kepada pemain lokal. Tanpa itu mungkin pemain seperti Delle Alli, Harry Kane, Kevin Trippier dll., tak akan bersinar.

“Bagi saya yang paling penting di sini di Inggris adalah mencoba untuk mendukung pemain Inggris,” tutur Pochettino kepada Independent.

Gaya Main Kontinental dan Eksekusi Akhir Cara Lokal

Kesadaran bahwa gaya bermain Inggris sudah kelewat kuno sudah berlangsung lama. Hal itu membuat Inggris pernah terobsesi untuk bermain dengan gaya kontinental yang menerapkan bola-bola bawah yang dimainkan dengan umpan pendek ketimbang bermain direct yang mengandalkan bola-bola panjang ala kick n rush.

Dua dekade lalu, pada pertengahan tahun 1990an, pers Inggris senang betul menyebut cara bermain Chelsea saat dipimpin Gullit — kemudian dilanjutkan Gianluca Vialli — sebagai “sexy football” yang mengandalkan umpan-umpan pendek. Chelsea dipuji menjadi jeda dari kebosanan melihat umpan-umpan panjang monoton yang tersaji setiap akhir pekan di liga.

Kini, Inggris bermain dengan cara yang relatif baru. Southgate memanfaatkan semua potensi yang dimiliki para pemainnya yang relatif punya pengalaman taktikal lebih variatif di klubnya masing-masing.

Namun Southgate bukanlah tukang foto copy yang buruk dan membabibuta. Kendati mengadopsi banyak hal yang dilakukan apra pelatih asing di Liga Inggris, namun dia pun berhasil mengeksploitasi sesuatu yang sudah lama menjadi kekuatan Inggris: aspek fisik dan kemahiran memainkan bola di udara dalam eksekusi akhir.

8 dari 11 gol Inggris di Piala Dunia kali ini lahir dari situasi bola mati (sepak pojok, tendangan bebas maupun penalti). Hal ini memperlihatkan betapa Southgate tidak terobsesi dengan pendekatan taktik yang baru. Ia memakai taktik 3 bek, misalnya, bukan karena fanatik pada pakem tersebut, melainkan karena ia merasa taktik itu memang cocok untuk materi pemain yang ia miliki. Kemahiran Inggris dalam bola mati juga menunjukkan: gaya bermain kontinental tak membuatnya menjadi buta pada pendekatan lama yang memang sudah menjadi alami bagi pemain Inggris.

Maka jadilah Inggris seperti yang kita lihat di Piala Dunia 2018 kali ini: canggih secara taktik, tetap British dalam penyelesaian akhir

Pickford Komentari Kritikan Thibaut Courtois yang Menyinggungnya

Penjaga gawang tim nasional Inggris, Jordan Pickford ternyata masih menyimpan rasa sakit hati setelah dikritik oleh penjaga gawang Belgia, Thibaut Courtois. Kini Pickford pun kembali menegaskan jika aksinya tak kalah hebat dari sang kiper berbadan jangkung tersebut.

Sebelumnya, Jordan Pickford sempat mendapatkan kritikan fisik dari kiper Timnas Belgia, Thibaut Courtois. Mampu menunjukan kualitasnya kepada publik, penjaga gawang Inggris itu kembali angkat bicara mengenai kritikan yang menyakitkan hatinya itu.

Saat itu, Courtois memberikan kritik tentang tinggi badan Pickford yang kurang jangkung saat Timnas Inggris bertemu Timnas Belgia di fase grup. Courtois menyampaikan jika Pickford bisa saja menyelamatkan tembakan Adnan Januzaj, kalau dirinya punya postur tubuh sedikit lebih tinggi lagi dari yang ada saat ini.

Kesal, dengan kritikan tersebut Pickford pun langsung membalasnya dengan pembuktian di rumput hijau. Penjaga gawang Everton itu berhasil menjadi bintang di babak 16 besar pada saat melawan kubu Kolombia. Ia sukses menyelamatkan penalti Carlos Bacca, dan mendapatkan Man of the Match saat bertemu Swedia hari Sabtu (7/7/18).

Meski Courtois sendiri sudah membantah tak bermaksud menghina, namun Pickford yang masih sakit hati kembali melontarkan balasan terhadap kritik fisik yang sudah dilepaskan Courtois. Kualitas yang dimilikinya saat ini ia klaim aslinya tidak jauh berbeda dengan Courtois.

“Saya sama sekali tidak akan membiarkan kritikan seperti ini terus-terusan mempengaruhi saya. Ini hanya permainan sepakbola. Saya tidak akan biarkan hal seperti itu mempengaruhi pikiran saya. Saya hanyalah pria biasa saja. Sekali lagi, ini hanya sepakbola,” ungkap Pickford seperti dilansir dari Goal International.

“Banyak juga orang yang berpikir bahwa saya masih berusia muda, tapi ini adalah musim kedua saya di Premier League. Saya juga tidak merasa jauh dari orang seperti dia itu (Thibaut Courtois),” jelasnya.

“Saya ini punya banyak pengalaman pertandingan di liga yang lebih rendah, dan saya tidak merasa Premier League ataupun Inggris begitu berbeda jauhlah. Di beberapa sisi, League Two adalah tantangan yang berat,” pungkasnya

Piala Dunia 1958, Saat ‘Bocah’ Brasil Mengguncang Eropa

Striker Timnas Brasil, Pele (kanan), melompat saat menghadapi Swedia di final Piala Dunia 1958.

Striker Timnas Brasil, Pele (kanan), melompat saat menghadapi Swedia di final Piala Dunia 1958.

Brasil menjadi juara pada Piala Dunia 1958.

mxzhqmmg – Tim Amerika Selatan lagi-lagi kehilangan taji pada Piala Dunia yang digelar di daratan Eropa. Piala Dunia 2018 kembali menjadi momen di mana wakil-wakil Amerika Selatan tumbang tanpa bisa mengangkat trofi sejak terakhir mmelakukkannya 60 tahun lalu. Kali ini di Rusia, Uruguay tumbang oleh Prancis 0-2, disusul Brasil yang menyerah 1-2 dari Belgia pada perempat final Piala Dunia 2018.

Amerika Selatan pernah berjaya di Eropa saat Brasil menjadi juara pada Piala Dunia 1958. Kala itu, Brasil keluar sebagai juara setelah menggasak tuan rumah Swedia dengan skor 5-2.

Kemenangan ini sekaligus jadi kali pertama negara Amerika Selatan keluar sebagai kampiun di Benua Biru. Sebab, setelah itu, wakil negara Eropa selalu menjadi juara di tanahnya sendiri. Dimulai pada 1966 yang dimenangkan timnas Inggris, kemudian Jerman Barat 1974, Spanyol 1982, Jerman Barat 1990, Prancis 1998, dan terakhir Italia 2006. Maka tak berlebihan jika pecinta sepak bola akan terus mengingat kejayaan Brasil yang diperkuat Pele, sang ‘bocah’ ajaib.

Pele keluar sebagai bintang pada laga final pada usia 17 tahun. Ia sekaligus menjadi pencetak gol termuda dalam sejarah Piala Dunia dengan torehan enam gol di Swedia dari empat laga.

Sejatinya Pele diragukan untuk terbang ke negara Skadinavia karena dirinya dibekap cedera disamping usianya yang masih terbilang sangat muda untuk bersaing dengan pemain Eropa. Namun, rekan setimnya mendesak pelatih Vicente Feola untuk memanggilnya. Alhasil penggawa Santos masuk dalam skuat Selecao.

Sang legenda tidak bermain di dua partai awal Brasil pada fase grup. Pelatih menurunkannya ketika Brasil berjumpa Uni Soviet, hasilnya Brasil menang 2-0 berkat aksi Pele yang sukses menyumbangkan assist bagi terciptanya gol Vava.

“Jika lutut Pele tak mengalami masalah (cedera), maka dia akan siap bermain. Pemain Eropa besar dan unggul dalam fisik namun ia mampu menumbangkannya,” kata Feola.

Hingga pada perempat final melawan Wales, ia mencetak gol pertamanya. Setelah itu, Pele mencetak hat-trick pada laga semifinal versus Prancis. Dia kemudian menyumbang dua gol di final untuk membantu Brasil memenangkan gelar Piala Dunia pertama. Dunia telah diperkenalkan dengan bakat lincah Pele, dan dinasti sepak bola yang dikenal sebagai tim nasional Brasil lahir. Sepak bola tidak pernah sama lagi setelah kehadiran Pele.

Piala Dunia 1958 bisa dibilang sebagai panggung awal bagi pesepak bola bernama lengkap Edson Arantes do Nascimento. Ia hanya kalah dari bomber Prancis, Just Fontaine (13 gol) yang mencatatkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia. Hingga akhir kariernya sebagai pemain, Pele total mengoleksi tiga trofi Piala Dunia dan mengemas lebih dari 1.000 gol.

Merujuk pada film berjudul Pele disutradarai oleh Jeff Zimbalist, dalam ajang akbar sepak bola empat tahunan tersebut Pele yang hidup dalam pusaran kemiskinan membuat mata publik dunia terbelalak. Aksinya membuat gaya sepak bola ala Brasil, Joga Bonito, menjadi masyhur.

11 Pemain Terbaik pada Perempat Final Piala Dunia 2018

 

11 Pemain Terbaik pada Perempat Final Piala Dunia 2018

11 Pemain Terbaik pada Perempat Final Piala Dunia 2018

mxzhqmmg – Pertandingan perempat final Piala Dunia 2018 yang berlangsung pada 6 dan 7 Juli telah rampung dihelat. Empat tim berhasil melewati hadangan rival-rivalnya dan meraih tiket ke semifinal.

Prancis menjadi tim pertama yang melenggang ke babak empat besar. Les Blues berhasil melewati hadangan Uruguay setelah meraih kemenangan 2-0, dalam laga yang berlangsung di Nizhny Novgorod Stadium.

Langkah timnas Prancis juga disusul oleh Belgia. De Rode Duivels secara mengejutkan berhasil menghentikan laju Brasil. Bermain di Kazan Arena, Belgia meraih kemenangan 2-1 atas Tim Samba.

Dalam laga semifinal, timnas Belgia akan meladeni perlawanan Prancis di Krestovsky Stadium, 10 Juli 2018. Bagi kedua tim, ini akan menjadi pertemuan ke-74 di seluruh ajang kompetisi.

Seperti dilansir Daily Mail, dari 73 pertemuan sebelumnya, timnas Belgia meraih 30 kemenangan, Prancis dengan 24 kemenangan, dan 19 pertandingan lainnya berakhir imbang.

Pada laga lain, langkah timnas Inggris masih belum terbendung. Skuat Tiga Singa sukses menembus semifinal setelah membungkam Swedia dengan skor 2-0 di Cosmos Arena.

Memasuki babak empat besar, Inggris akan menghadapi lawan yang tak mudah. Sebab, mereka bakal bersua Kroasia di Luzhniki Stadium pada 11 Juli 2018.

Timnas Kroasia meraih tiket ke semifinal setelah menang 4-3 atas Rusia dalam laga adu penalti di Fisht Olympic Stadium, 7 Juli 2018. Duel kedua tim terpaksa berlanjut hingga ke babak tos-tosan, karena skor 2-2 bertahan hingga 120 menit.

Keberhasilan tim-tim tersebut lolos ke semifinal tak lepas dari performa impresif sejumlah pemain bintang. Dari para pemain top terdapat beberapa nama yang tampil apik pada laga perempat final.

Berikut ini adalah 11 pesepak bola yang bermain gemilang pada babak delapan besar Piala Dunia 2018. Nama-nama pemain tersebut bisa membentuk formasi 4-3-3.

  • Kiper: Thibaut Courtois
  • Bek kanan: Kieran Trippier
  • Bek tengah: Harry Maguire
  • Bek tengah: Raphael Varane
  • Bek kiri: Lucas Hernandez
  • Gelandang tengah: Marouane Fellaini
  • Gelandang tengah: Jordan Henderson
  • Gelandang tengah: Paul Pogba
  • Winger kanan: Antoine Griezmann
  • False 9: Kevin De Bruyne
  • Winger kiri: Eden Hazard

Eric Cantona Bully Neymar yang Suka Diving

Eric Cantona tidak suka dengan aksi Neymar yang kerap melakukan diving.

Eric Cantona tidak suka dengan aksi Neymar yang kerap melakukan diving.

mxzhqmmg – Bintang Timnas Brasil, Neymar da Silva, menjadi sorotan utama di dalam pertandingan melawan Meksiko dalam lanjutan babak 16 besar Piala Dunia 2018. Meski Brasil menang dengan skor 2-0, namun Neymar memperoleh banyak kritik dan sindiran. Pasalnya, dalam laga tersebut, pemain termahal sejagat raya itu kerap melakukan aksi diving.

Aksi Neymar tersebut pun mendapat kecaman dari banyak pihak. Selain dari pemain dan pelatih Timnas Meksiko, sejumlah legenda sepakbola pun turut tak senang dengan tingkah laku Neymar yang suka diving di atas lapangan. Setelah Diego Maradona dan Alan Shearer yang mengkritik Neymar, kali ini giliran Eric Cantona yang turut menasihati pemain 26 tahun itu.

Neymar da Silva

Neymar da Silva

Kendati disebut sebagai sebuah nasihat, mungkin lebih tepat kalau disebut pesan Cantona untuk Neymar itu sebagai sebuah sindiran atau bahan olok-olokan (bully). Pasalnya, Cantona menyamakan Neymar dengan sebuah koper. Menurut Cantona, Neymar dan koper beroda memiliki kesamaan, di mana keduanya akan berputar-putar lama sekali setelah disentuh.

Meski Cantona menyebut Neymar sebagai pemain yang hebat, namun ia juga melihat pemain Paris Saint-Germain (PSG) itu sebagai aktor yang hebat. Aksi Neymar yang melakukan diving di Piala Dunia 2018 bukan hanya terjadi di laga melawan Meksiko saja. Sebelumnya, saat di fase grup, Neymar juga kerap melakukan diving, dan itu membuat kubu tim lawan kesal.

“Ini adalah koper baru saya. Saya memanggilnya Neymar karena warnanya. Dan mungkin karena ini: Anda sedikit saja menyentuhnya dan dia akan berputar-putar selama berjam-jam. Ngomong-ngomong, Neymar, Anda adalah pemain yang hebat dan seorang aktor yang hebat,” ujar Cantona dalam sebuah video singkat, Selasa (3/7/2018).

“Tapi, hati-hati dengan kesalahan berkelanjutan. Jika Anda diserang pada bagian pundak kanan, Anda tidak bisa menangis kesakitan sambil memegangi pipi kiri Anda,” lanjutnya.

Inggris Siap Hadapi Adu Penalti di Perempat Final

Kiper Kolombia David Ospina menghentikan tendangan gelandang Inggris Jordan Henderson pada adu penalti babak 16 besar Piala Dunia 2018.

Kiper Kolombia David Ospina menghentikan tendangan gelandang Inggris Jordan Henderson pada adu penalti babak 16 besar Piala Dunia 2018.

Mxzhqmmg Harry Kane memastikan timnas Inggris siap tempur melawan Swedia. Inggris dan Swedia di babak perempat final Piala Dunia 2018.

Inggris lolos ke perempat final dengan mengalahkan Kolombia secara dramatis setelah melalui babak adu penalti. Sementara itu, Swedia lolos ke delapan besar setelah mengalahkan Swiss dengan gol tunggal Emil Forsberg.

Kane, kapten Inggris, menyatakan timnya telah mempersiapkan diri dengan maksimal. Selain itu, situasi ruang ganti Inggris juga sangat harmonis dan semua pemain sudah menunjukkan persatuan yang kuat.

Harry Kane menyebut para pemain Inggris saat ini memiliki kebersamaan yang bagus. Ia merasa timnas Inggris saat ini sudah seperti keluarga. Bagi Kane, rekan-rekannya di timnas sudah dianggapnya seperti saudara sendiri.

“Kami semua ini seperti keluarga. Kami menghabiskan banyak waktu bersama dan bisa menyatu dengan sangat baik. Kami memiliki kebersamaan dan saling percaya. Saya melihat mereka seperti saudara-saudara saya sendiri, mereka juga menganggap saya seperti itu. Kami akan melakukan segalanya demi satu sama lain,” terang Kane kepada BBC.

“Kami punya kebersamaan dan saling percaya, tapi kami harus bisa membuktikannya di atas lapangan. Kami sudah berhasil melakukannya sejauh ini. Dan itu membuat kami semakin kuat.”

Susah Payah

Inggris Siap Hadapi Adu Penalti di Perempat Final

Inggris Siap Hadapi Adu Penalti di Perempat Final

Inggris harus berjuang keras untuk bisa lolos dari babak 16 besar. Mereka bermain imbang 1-1 melawan Kolombia dan harus bertarung sampai babak adu penalti yang mereka menangkan dengan skor 4-3. Kane menegaskan Inggris akan siap menjalani pertarungan seperti itu lagi.

“Jika anda menjalani pertarungan seperti itu dan berhasil menang, maka anda akan mendapatkan banyak energi. Anda percaya diri akan mampu melakukannya lagi. Rasanya luar biasa. Kami semakin lapar dengan kemenangan yang lain. Kami ingin merasakannya lagi. Jika laga melawan Swedia nanti sampai ke babak tambahan dan adu penalti, kami akan siap.”

“Rasanya menyenangkan bisa melewati pertandingan melawan Kolombia dan kemudian melihat kebahagiaan di wajah semua orang. Kami sudah bekerja keras untuk bisa melewati ujian itu dan sekarang kami makin bangga dengan satu sama lain. Kami sudah siap untuk menjalani segalanya agar bisa lolos.”

Champ Moment: Aksi Heroik Thibaut Courtois Terbangkan Belgia

Champ Moment: Aksi Heroik Thibaut Courtois Terbangkan Belgia

Champ Moment: Aksi Heroik Thibaut Courtois Terbangkan Belgia

Kiper Chelsea ini bermain gemilang untuk membendung gempuran Brasil dan menerbangkan Belgia ke semi-final kedua sepanjang sejarah Piala Dunia.

Duel antartim favorit di Kazan Arena pada Sabtu (7/7) dini hari WIB akhirnya melahirkan Belgia sebagai pemenang. Skuat Iblis Merah melangkah ke semi-final Piala Dunia 2018 usai memaksa Brasil bertekuk lutut dengan skor 2-1.

Nama Kevin De Bruyne atau Eden Hazard mungkin mencuat sebagai bintang lapangan berkat performa ciamik mereka dalam membangun serangan-serangan Belgia, tetapi performa kiper Thibaut Courtois haram untuk diabaikan.

Belgia langsung tampil spartan di babak pertama dan menghasilkan keunggulan dua gol.

Aksi bunuh diri Fernandinho saat mengantisipasi situasi tendangan penjuru membuka skor di menit ke-13, sebelum De Bruyne melesatkan salah satu gol terbaik turnamen tak lama setelah permainan melewati setengah jam.

Sang gelandang Manchester City menaklukkan Alisson dengan tembakan roket dari luar kotak yang mustahil diselamatkan kiper Tim Samba tersebut.

Masuk ke paruh kedua, Belgia menunjukkan kedisiplinan tinggi di lini pertahanan untuk menghadapi gempuran kuat Brasil yang bernafsu mengejar ketertinggalan.

Kekalahan Brazil atas Belgia 1-2

Kekalahan Brazil atas Belgia 1-2

Selain penampilan solid trio Toby Alderweireld, Vincent Kompany, dan Jan Vertonghen, acungan dua jempol jelas sangat pantas diberikan kepada Courtois.

Serentetan penyelamatan gemilang diperlihatkan kiper Chelsea itu untuk mengamankan gawang Belgia dari gempuran deras Selecao. Tidak kurang dari sembilan save dilakukannya sepanjang laga di Kazan Arena.

Kepahlawanan Courtois berkulminasi pada aksi heroiknya mengadang tendangan melengkung Neymar dari depan kotak penalti pada menit keempat injury time! Tepisan tersebut praktis membunuh harapan Brasil yang sebelumnya mengurangi defisit melalui sundulan pemain pengganti Renato Augusto.

Penyelamatan terbang Courtois menerbangkan Belgia ke semi-final kedua mereka sepanjang sejarah kompetisi. Mimpi juara generasi emas Les Diables Rouges bukan harapan kosong.